RSS

IMUNISASI DASAR

22 Mei

PENDAHULUAN

Si kecil sering sakit-sakitan dan terhambat pertumbuhannya? Mungkin karena daya tahan tubuhnya sedang menurun akibat pengaruh lingkungan, atau bahkan karena imunitasnya termasuk rendah. Sebelum memberikan obat-obatan kepada si kecil, ada baiknya Bunda mengingat-ingat lagi, kapan terakhir kali si kecil mendapat imunisasi. Sudah lengkapkah imunisasinya? Atau mungkin ada yang terlewat?

Imunisasi bisa meningkatkan imunitas tubuh dan menciptakan kekebalan terhadap penyakit tertentu dengan menggunakan sejumlah kecil mikroorganisme yang dimatikan atau dilemahkan.

Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak.

Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa dihindari.

 

IMUNISASI DASAR PADA BAYI

 1. Definisi

  • Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resistan.
  • Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekeabalan tubuh (imunitas( pada bayi atau anak, sehingga terhindar dari penyakit. (DEPKES, 2000).
  • Imunisasi adalah suatu uasaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu.
  • Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, dengan memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan.

2. Tujuan Imunisasi

Memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, mencegah terjadinya penyakit dan menghilangkan penyakit tertentu dari populasi.

3. Manfaat Imunisasi

  • Untuk anak

Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.

  • Untuk keluarga

Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengibatan bila anak sakit.

  • Untuk negara

Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan beraksi untuk melanjutkan pembangunan negara.

 4. Imunisasi Dasar

Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan di atas ambang perlindungan. Imunisasi deiberikan pada bayi antara 0-12 bulan, yang terdiri dari imunisasi BCG, DPT (1,2,3), Polio (0,1,2,3), Hepatitis B (1,2,3), dan campak.

  1. Imunisasi BCG

Singkatan dari Bacillus Calmatto Guenin. Penemu kuman yaitu Calmatto dan Guenin. Vaksin ini mengandung baketri Bacillus Cakmatto Guenin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.

  • Tujuan

Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC).

  • Sasaran

Semua bayi baru lahir sampai usia kurang dari 2 bulan (0-2 bulan)

  • Cara penyuntikan

Dilakukan di bagian atas lengan kanan (regin deltoid) dengan dosis 0,05 ml secara intrakutan.

  • Reaksi yang terjadi yaitu 1-2 jam setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menajdi pustula (gelembung berisi nanah) lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
  • Cara penyimpanan

Vaksin BCG harus disimpan pada suhu 8oC.

  • Kontraindikasi

Penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukimia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV)

  • Komplikasi
  1. Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan terlalu dalam.
  2. Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi.

  1. Imunisasi Hepatitis B

Hepatitis B (HBV) adalah virus yang menginfeksi lever. Bila terkena virus ini akan menjadi pembawa virus yang bisa menularkannya, selain mengalami gangguan berkepanjangan semacam penyakit lever, kanker lever, dll. Vaksin diberikan dengan suntikan.

Vaksin ini memberikan imunitas jangka panjang sampai usia lanjut. Dengan mendapatkan vaksin ini dalam satu seri akan mengurangi secara drastis resiko gangguan pada lever. Untuk itu bagi orang dewasa muda yang belum mendapatkan vaksin ini saat balita sangat dianjurkan untuk memperolehnya.

  • Tujuan

memberikan kekebalan terhadap Hepatitis B yang berakibat pada hati.

  • Lokasi penyuntikan:
  1. Pada anak di lengan dengan cara i.m
  2. Pada bayi di paha lewat anterolateral (antero=otot-otot bagian depan, lateral= otot bagian luar)
  3. Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.
  • Efek samping à umumnya tidak terjadi.
  • Cara penyimpanan à penyimpanan pada suhu 2-8 oC
  • Kontra indikasi à tak dapat diberikan pada anak yang sakit berat.

  1. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus.

Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.

Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.

Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.

  • Cara pemberian à dosis 0,5 cc dengan suntikan secara i.m di otot lengan atau paha.
  • Sasaran à imunisasi diberikan sebanyak 3 kali, pada saat umur 2 bulan (DPT1), 3 bulan (DPT2) dan 4 bulan (DPT3); selang waktu kurang dari 4 minggu.
  • Cara penyimpanan à harus disimpan pada suhu 2-8oC dan jangan dibekukan.
  • Efek samping

1-2 hari setelah disuntik, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.

  • Kontra indikasi

Jika anak sedang sakit yang lebih serius dai pada flu ringan, imunisasi DPT dapat ditunda sampai anak sehat.

  1. Imunisasi Campak

Campak adalah suatu infeksi virus yang sanggat menular, yang ditandai dengan demam, lemas, konjungtivis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit)

  • Tujuan à memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
  • Sasaranà diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak usia 9-12 bulan
  • Cara penyuntikan à vaksin disuntikkan secara SC dalam sebanyak 0,5 ml pada lengan atas bayi.
  • Cara penyimpanan à vaksin yang digunakan pada hari itu juga, maksimal 8 jam dan itu pun berlaku hanya jika vaksin selama waktu tersebut tersimpan pada suhu 0-8oC
  • Efek samping à demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta endefalitis (jarang)
  • Kontraindikasi pemberian vaksin campak:
  1. Infeksi akut disertai demam lebih dari 38oC
  2. Gangguan sistem kekebalan tubuh
  3. Pemakaian obat imunosupresan
  4. Alergi terhadap protein telur
  5. Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin

  1. Imunisasi Polio

Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu lengan/ tungkai.

  • Tujuan à imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.
  • Sasaran à bayi umur 1, 2, 3, 4 bulan.
  • Cara pemberian à vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung ke mulut anak.
  • Cara penyimpanan à pada suhu 2-8oC bertahan selama 6 bulan, dan -15 smapai -25oC bertahan selama 2 tahun.
  • Kontraindikasi pemeberian vaksin polio:
  1. Diare berat
  2. Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoteratpi, kortikostereoid)
  • Efek samping à kelumpuhan dan kejang-kejang.

5. Jadwal Pemberian Imunisasi

  1. Hepatitis B

Umur pemberian kurang dari 7 hari, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan. Sebnayak 4 kali untuk mencegah penularan Hepatitis B dan kerusakan hati.

  1. BCG

Umur pemberian 1 bulan, sebnaak 1 kali untuk mencegah penularan TBC yang berat.

  1. DPT

Umur pemberian 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan sebanyak 3 kali untuk mencagah penularan difteri yang menyebabkan penyumbatan jalan nafas, batuk rejan (batuk 100 hari), Tetanus.

  1. Polio

Umur pemberian 1 bulan, 2 bulan, 3 buan, 4 bulan, sebanyak 4 kali untuk mencegah penularan polio yang menyebabkan lumpuh layuh pada tungkai dan atau lengan.

  1. Campak

Umur pemberian 9 bulan, sebanyak 1 kali, untuk mencegah penularan campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak dan kebutaan.

 

Sumber:

Depkes, RI. 2000. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Depkes RI.

Sudarti. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Nuha Medika.

Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Salemba Medika.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2014 in Asuhan Neonatus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: