RSS

POST MATURE

09 Apr

A. Pengertian

Kehamilan postterm adalah kehamilan dengan usia lebih dari 42 minggu atau lebih berdasarkan perhitungan usia kehamilan dengan menggunakan HPHT. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa, kehamilan postmatur adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan seperti rumus neagle atau dengan tinggi fundus uteri serial (Mansjoer, 2011).

Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34 – 36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan posterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sedemikian hebat sehingga terjadi gawat janin.

Bila keadaan di atas tidak terjadi atau dengan kata lain tidak terjadi peristiwa insufisiensi plasenta maka janin posterm dapat tumbuh terus dengan akibat tubuh anak menjadi besar (makrosomia) dan dapat selanjutnya dapat menyebabkan distosia bahu.

Resiko pada janin posterm adalah gangguan yang terjadi selama periode antepartum dan gawat janin pada saat intrapartum karena adanya kompresi tali pusat akibat oligohidramnion yang terjadi.

Sangat penting untuk memastikan bahwa kehamilan sebenarnya postterm atau tidak. Idealnya, usia kehamilan yang akurat ditentukan di awal kehamilan. Pada wanita yang memiliki periode menstruasi yang teratur, HPHT dapat diandalkan dengan catatan haidnya teratur minimal 3 bulan terakhir sebelum kehamilan.

Jika ada ketidakpastian HPHT, atau jika ukuran rahim lebih besar atau lebih kecil dari berdasarkan HPHT, usia gestasi janin dan tanggal persalinan dapat diperkirakan dengan pemeriksaan USG. Hasil pemeriksaan USG paling akurat bila dilakukan pada awal kehamilan, jika dilakukan pada paruh terakhir kehamilan kurang dapat diandalkan untuk memperkirakan taksiran persalinan.

B. Etiologi

Sebagian keadaan langka yang berkaitan dengan kehamilan yang lama mencakup anensefalus, hipoplasia, tidak ada kelenjar hipofise janin, defisiensi plasenta dan kehamilan extrauteri, meskipun etiologi kehamilan yang lama dipahami sejarahnya, keadaan klinis ini memberikan suatu gambaran unsur yaitu

  1. Penurunan kadar estrogen pada kehamilan normal umumnya tinggi.
  2. Pada kasus insufisiensi plasenta atau adrenal janin, hormone procusor yaitu isoandrosteron sulfat dieksresikan dalam cukup tinggi konversi menjadi estradiol dan secara langsung estriol di dalam plasenta contoh klinik mengenai defisiensi prekusor estrogen adalah anensefalus.
  3. Faktor hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang.
  4. Faktor lain adalah hereditas, karena postmatur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.

C. Manifestasi Klinis

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subjektif kurang dari 7 kali/ 20 menit atau secara objektif dengan KTG (karditopografi) kurang dari 10 kali/ 20 menit.

Pada bayi akan ditemukan tanda- tanda lewat waktu yang terbagi menjadi:

  1. Stadium IKulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
  2. Stadium IISeperti stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan di kulit).
  3. Stadium IIISeperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.

D. Diagnosa

Prognosis postmatur tidak seberapa sulit apabila siklus haid teratur dari hari pertama haid terakhir diketahui pasti. Dalam menilai apakah kehamilan matur atau tidak, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan.

  1. Berat badan ibu turun dan lingkaran perut mengecil air ketuban berkurang.Pemeriksaan rontgenologik dengan pemeriksaan ini pada janin matur dapat ditemukan pusat osifikasi pada oscubuid, bagian distal femus dan bagian proksimal tubia, diameter biparietal kepala 9,8 cm lebih. Keberatan pemeriksaan ini adalah kemungkinan pengaruh tidak baik sinar rontgen terhadap janin.
  2. Pemeriksaan dengan USGDengan pemeriksaan ini diameter biparietal kepala janin dapat diukur dengan teliti tanpa bahaya. Pemeriksaan menurut ginekologi.Pemeriksaan sitologik liquoramni
  3. Amniostopi dan pemeriksaan Ph nya dibawah 7,20 dianggap sebagai tanda gawat janin.
  4. Pemeriksaan sitologik vagina untuk menentukan infusiensi plasenta dinilai berbeda- beda.
  5. Pemeriksaan Penunjang
    • USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta.
    • KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
    • Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa tekanan dinilia apakah reaktif atau tidak ada tes tekanan oksitosik)
    • Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik.

 E. Penatalaksanaan

  1. Setelah UK> 40 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik- baiknya.
  2. Apabila tidak ada tanda- tanda insufisiensi plasenta persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
  3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.
  4. Bila riwayat kehamilan yang lalu ada kehamilan janin dalam rahim terdapat hipertensi , pre eklamsi dan kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas, atau pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu, maka ibu dirawat di rumah sakit.
  5. Tindakan operasi SC dapat dipertimbangkan pada insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang, pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi tanda gawat janin atau primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre eklamsia, hipertensi menahun, infertilitas dan kesalahan letak janin.

Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur besar dan distosia janin perlu dipertimbangkan selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan norkosa, perawatan neonatus postmatur perlu dibawah pengawasan dokter anak.

Kehamilan dengan janin yang besar atau disertai dengan gawat janin harus diakhiri dengan sectio caesar. Bila tidak terdapat FPD (fetopelvic disproportion atau gawat janin), dapat dilakukan induksi persalinan dengan pengamatan janin yang ketat.

American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) menyatakan bahwa pemantauan janin hanya diperlukan setelah 42 minggu (294 hari) usia kehamilan, tetapi dokter kebidanan sudah memulai pengujian janin pada usia 41 minggu. Banyak ahli merekomendasikan pengujian dua kali seminggu, termasuk pengukuran volume cairan ketuban. Pemeriksaan berupa mengamati detak jantung janin ‘menggunakan monitor janin (disebut nonstress- test atau NST) atau mengamati aktivitas bayi dengan USG (disebut profil biofisik).

Nonstress Tes (NST) dengan memantau detak jantung bayi dengan sebuah perangkat kecil yang diletakkan di perut ibu. Perangkat ini menggunakan gelombang suara (ultrasound) untuk mengukur denyut jantung bayi dari waktu ke waktu, biasanya untuk 20 sampai 30 menit. Frekuensi dasar (Baseline) detak jantung bayi harus antara 110 dan 160 denyut per menit dan harus meningkat minimal 15 denyut per menit selama 15 detik ketika bayi bergerak.

Tes ini dianggap aman jika ditemukan dua atau lebih peningkatkan laju jantung janin (akselearsi) dalam jangka waktu 20 menit. Pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan jika kenaikan tidak ditemukan setelah pemantauan selama 40 menit.

Volume cairan ketuban merupakan variabel penting dalam BPP karena volume yang rendah (Oligohidramnion) dapat meningkatkan risiko terjadinya kompresi tali pusat. Jumlah air ketuban bisa berkurang dalam jangka waktu singkat (beberapa hari).

Stress tes kontraksi (CST) juga bisa dilakukan untuk menilai kesehatan janin. Caranya dilakukan melibatkan pemberian suatu obat (oksitosin) untuk ibu untuk merangsang kontraksi uterus, kemudian detak jantung janin dimonitor untuk melihat reaksinya terhadap kontraksi yang timbul. Jika denyut jantung janin melambat (deselearsi lambat dll memenuhi kriteria gawat janin) selama CST mungkin dibutuhkan persalinan dengan bedah caesar.

Dalam Induksi persalinan dokter harus mempertimbangkan risiko dan manfaat untuk melanjutkan kehamilan, hasil tes, dan kondisi serviks (leher rahim). Biasanya, leher rahim mulai membuka dan mengalami penipisan menjelang akhir kehamilan. Induksi persalinan lebih cenderung gagal pada wanita yang serviksnya tidak melebar atau menipis , sehingga akhirnya persalinan harus di akhiri dengan operasi.

Saat ini induksi sudah mulai dilakukan pada usia kehamilan 41-42 minggu jika tidak terjadi persalinan secara spontan. Jika serviksnya belum matang, maka bisa dilakukan pematangan serviks dengan pemberian obat (prostglandin dll) atau dengan menggunakan metode mekanis dengan memasang kateter Foley di leher rahim. Pada wanita yang serviksnya sudah matang dapat dilakukan induksi langsung dengan pemberian obat (oksitosin), yang diberikan melalui cairan infus. Persalinan bisa dipilih secara bedah caesar jika janinnya besar, memiliki riwayat persalinan dengan bedah caesar sebelumnya, atau alasan pilihan pribadi (on demand).

Dalam kasus ini yaitu pada kehamilan postterm bidan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan induksi persalinan misalnya. Kewenangan bidan hanya dalam ranah kewenangan pada kasus-kasus yang normal. Sementara kehamilan postterm adalah kasus patologi yang di luar kewenangan bidan. Bidan hanya melakukan deteksi dini dan pemeriksaan-pemeriksaan yang menghasilkan diagnosa kebidanan, untuk penanganan selanjutnya bukan lagi kewenangan bidan.

 

Sumber :
Sujiyatini, dkk.2009.Asuhan Patologi Kebidanan. Yogyakarta : Medical Book.
Wahyuningsih, Retno. 2012. Kehamilan Lewat Waktu (Posterm). Tersedia pada web:http://id.scribd.com/87054293-postmatur.docx
 http://dinkesbanggai.wordpress.com/2011/08/15/kewenangan-bidan-sesuai-permenkes-no-1464-tahun-2010-tentang-izin-dan-penyelenggaraan-praktik-bidan/
http://www.mulanddee.blogspot.com

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2014 in Askeb 4 (Kegawatdaruratan)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: