RSS

INFEKSI NEONATUS

06 Agu

A.    Infeksi Neonatus

Infeksi pada bayi baru lahir lebih sering ditemukan pada BBLR. Infeksi lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Bayi baru lahir mendapat kekebalan tubuh transplasenta terhadap kuman yang berasal dari ibunya. Sesudah lahir, bayi terpapar dengan kuman yang juga berasal dari orang lain dan terhadap kuman dari orang lain, dalam hal ini bayi tidak mempunyai imunitas.

Bayi baru lahir beresiko tinggi terinfeksi apabila ditemukan:

Riwayat kehamilan

  1. Infeksi pada ibu selama hamil antara lain TORCH
  2. Ibu menderita eklamsia
  3. Ibu dengan diabetes mellitus
  4. Ibu mempunyai penyakit bawaan

Riwayat kelahiran

  1. Persalinan lama
  2. Persalinan dengan tindakan (ekstraksi cunam/vacuum, seksio caesarea)
  3. Ketuban pecah dini
  4. Air ketuban hijau kental

Riwayat bayi baru lahir

  1. Trauma lahir
  2. Lahir kurang bulan
  3. Bayi kurang mendapat cairan dan kalori
  4. Hipotermia pada bayi

PENILAIAN

Diagnosis infeksi pada bayi baru lahir tidak mudah. Tanda khas seperti terdapat pada bayi yang lebih tua sering kali tidak ditemukan. Sering kali diagnosis didahului oleh persangkaan adanya infeksi, kemudian berdasarkan itu diagnosis ditentukan dengan pemeriksaan selanjutnya. Infeksi pada bayi baru lahir cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Diagnosis dini sering dibuat apabila petugas pelayanan kesehatan cukup waspada terhadap kelainan tingkah laku bayi baru lahir yang sering kali merupakan awal tanda infeksi umum. Beberapa gejala perubahan tingkah laku bayi baru lahir tersebut di antaranya ialah malas minum, gelisah, atau mungkin tampak letargis, frekuensi pernapasan menigkat, berat badan tiba-tiba turun, muntah dan diare. Selain itu dapat menjadi edema, sklerema, purpura atau perdarahan, icterus, hepatosplenomegali dan kejang. Suhu tubuh dapat meninggi, normal, atau dapat pula kurang dari normal.

PENANGANAN

  1. Pertahankan tubuh bayi tetap hangat
  2. ASI tetap diberikan atau diberi gula
  3. Diberi injeksi antibiotika berspektrum luas
  4. Penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak terarah dapat menyebabkan tumbuhnya jenis mikroorganisme yang tahan terhadap antibiotika dan mengakibatkan tumbuhnya jamur yang berlebihan, misalnya jenis candida albicans.
  5. Perawatan sumber infeksi, misalnya pada infeksi tunggal tali pusat (omfalitis) diberi salep yang mengandung neomisin dan basitrasin.

Jenis Antibiotika

Dosis

Frekuensi Pemberian

Injeksi Benzil Penisilin

atau

Injeksi Ampisilin

50.000 IU/kg/kali i.m

50 mg/kg/kali i.m/i.v

Tiap 12 jam

Tiap 8 jam

Dikombinasikan dengan

Injeksi Aminoglikosida

(Gentamisin)

2,5 mg/kg/ kali i.m/i.v

Tiap 12 jam

Eritromisin

50 mg/kg/hari

Dalam 3 dosis

BAGAN PENANGANAN INFEKSI ATAU SEPSIS

TANDA-TANDA

Suhu tubuh panas atau hipotermia, sesak napas, merintih, menangis lemah atau tidak ada tangis, susah minum, fontanel cembung, tali pusat memerah.

KATEGORI

Sepsis

Infeksi Lokal

PENILAIAN

Tanda-tanda tersebut di atas disertai:

  1. Kadang-kadang kejang
  2. Tali pusat merah atau kotor atau bau
  3. Kulit ikterik

Biasanya hanya ditemukan:

  1. Panas
  2. Tali pusat merah atau kotor atau bau
  3. Nanah di telinga
  4. Bisul atau pustule di kulit

PENANGANAN

PUSKESMAS

  1. Pertahankan tubuh bayi tetap hangat (tidak hipotermia)
  2. ASI tetap diberikan atau diberi air gula
  3. Injeksi antibiotika 1 kali
  4. Rujuk ke rumah sakit
  5. Diberi injeksi antibiotika
  6. Dilanjutkan dengan antibiotika oral
  7. Nasehat perawatan infeksi
  8. Kontrol kembali dalam 2 hari

RUMAH SAKIT

  1. Sama seperti di atas
  2. Diberi antibiotika ampisilin + gentamisin i.v.
  3. Bila perlu diberikan oksigen
  4. Infus untuk mencegah dehidrasi

ASI tetap diberikan

B.     Infeksi Tali Pusat

Tali pusat biasanya puput 1 minggu setelah lahir dan luka sembuh dalam 15 hari. Sebelum luka sembuh merupakan jalan masuk untuk infeksi, yang dapat dengan cepat menyebabkan sepsis. Pengenalan dan pengobatan secara dini infeksi tali pusat sangat penting untuk mencegah sepsis.

Faktor-faktor Penyebab Infeksi Tali Pusat

Faktor-faktor  yang  menyebabkan  terjadinya  infeksi  tali  pusat pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :

a.   Faktor kuman

Staphylococcus  aereus  ada  dimana-mana  dan  didapat  pada masa  awal kehidupan  hampir  semua  bayi,  saat  lahir  atau  selama masa perawatan.  Biasanya Staphylococcus aereus sering dijumpai pada  kulit,  saluran  pernafasan,  dan  saluran  cerna  terkolonisasi. Untuk pencegahan terjadinya infeksi tali pusat sebaiknya tali pusat tetap dijaga kebersihannya,  upayakan tali  pusat  agar tetap kering dan bersih, pada saat memandikan di minggu pertama sebaiknya jangan merendam bayi langsung ke dalam air mandinya karena akan menyebabkan basahnya tali pusat dan memperlambat proses pengeringan tali pusat. Dan masih banyak penyebab lain yang dapat memperbesar  peluang terjadinya infeksi pada tali pusat seperti penolong persalinan yang kurang menjaga kebersihan terutama pada alat-alat yang digunakan pada saat menolong persalinan dan khususnya pada saat pemotongan tali pusat. Biasakan  mencuci tangan untuk pencegahan terjadinya infeksi (Danuatmadja, 2003).

b.  Proses persalinan

Persalinan  yang  tidak  sehat  atau  yang  dibantu  oleh  tenaga  non medis. Kematian bayi yang diakibatkan oleh tetanus ini terjadi saat pertolongan   persalinan   oleh   dukun pandai,   terjadi pada saat memotong tali pusat menggunakan  alat yang tidak steril dan tidak diberikan obat antiseptik.

c. Faktor tradisi

Untuk  perawatan  tali  pusat  juga  tidak  lepas  dari  masih  adanya tradisi   yang   berlaku  di sebagian masyarakat  misalnya  dengan memberikan berbagai ramuan-ramuan atau serbuk-serbuk yang dipercaya bisa membantu mempercepat kering dan lepasnya potongan tali pusat.  Ada yang mengatakan tali pusat bayi itu harus diberi abu-abu pandangan seperti inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan  karena justru  dengan  diberikannya  berbagai ramuan tersebut kemungkinan terjangkitnya tetanus lebih besar biasanya penyakit tetanus neonatorum  ini cepat menyerang bayi, pada keadaan infeksi berat  hanya beberapa hari setelah persalinan jika tidak ditangani  biasa mengakibatkan meninggal dunia (Mieke,2006).

Masalah

Tali pusat merah dan bengkak, mengeluarkan nanah atau berbau busuk (terinfeksi).

Temuan

  • Kaji ulang temuan pada anamnesis dan pemeriksaan umum.
  • Jika tali pusat bengkak, mengeluarkan nanah, atau berbau busuk, tapi kemerahan dan pembengkakan terbatas pada daerah kurang dari 1 cm di sekitar pangkal tali pusat, obati sebagai infeksi tali pusat local atau terbatas.
  • Jika kulit di sekitar tali pusat merah dan mengeras atau bayi mengalami distensi abdomen, obati sebagai infeksi tali pusat berat atau meluas.

Manajemen

Infeksi tali pusat local atau terbatas

  • Bersihkan tali pusat menggunakan larutan antiseptic (missal klorheksidin atau iodium povidon 2,5%) dengan kain kasa yang bersih.
  • Olesi tali pusat dan daerah sekitarnya dengan larutan antiseptic (missal gential violet 0,5% atau iodium povidon 2,5%) 8 kali sehari sampai tidak ada nanah lagi pada tali pusat. Anjurkan ibu melakukan ini kapan saja bila memungkinkan.
  • Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm, obati seperti sebagai infeksi tali pusat berat atau meluas.

Infeksi tali pusat atau meluas

  • Ambil sampel darah dan kirim ke laboratorium untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas.
  • Beri kloksasilin per oral sesuai selama 5 hari.
  • Jika terdapat pustula atau lekuk kulit,
  • Cari tanda-tanda sepsis.

Lakukan perawatan umum seperti dijelaskan untuk tali pusat local atau terbatas

C.    Tetanus Neonatorum

Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonates (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin yang menyerang sistem saraf pusat.

Spora kuman tersebut masuk ke dalam tubuh bayi melalui pintu masuk satu-satunya, yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir maupun pada saat perawatannya sebelum puput. Masa inkubasi 3-28 hari, rata-rata 6 hari. Apabila masa inkubasi kurang dari 7 hari, biasanya penyakit lebih parah dan angka kematiannya tinggi.

Angka kematian kasus (case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi. Pada kasus tetanus neonatorum yang tidak dirawat, angkanya mendekati 100%, terutama yang mempunyai masa inkubasi kurang dari 7 hari. Angka kematian kasus tetanus neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8-55%.

Factor resiko untuk terjadinya tetanus neonatorum:

  1. Pemberian imunisasi tetanus toksoid pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap atau tidak sesuai dengan ketentuan program.
  2. Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat “3 bersih”.
  3. Perawatan tali pusat tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Sembuh dari penyakit tetanus tidak berarti seseorang/bayi selanjutnya kebal terhadap tetanus. Toksin tetanus dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan penyakit tetanus, tidak cukup untuk merangsang tubuh penderita dalam membentuk zat anti (anti bodi) terhadap tetanus. Itulah sebabnya seorang/bayi penderita tetanus harus menerima imunisasi TT pada saat diagnosis dan/atau setelah sembuh.

TT akan merangsang pembentuka antibody spesifik yang mempunyai peranna penting dalm perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dlam tubuhnya akan membentuk antibody tetanus. Seperti difteri, antibody tetanus termasuk dalam golongan IgG yang mudah melewat sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin, yang akan mnecegah terjadinya tetanus neonatorum.

Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali (2 dosis). Jarak pemberian TT pertama dan kedua, serta jarak antara TT ke 2 dengan saat kelahiran, sangat menetukan kadar antibody ttanus dalam darah bayi. Semakin lama interval anatara TT pertama dan kedua, serta antara TT ke 2 dengan kelahiran bayi maka kadar antibody tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang panjang mempertinggi respon imuonologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyebrangkan antibody tetanus dalam jumlah yang cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya.

  1. Imunisasi TT pada kehamilan sedini mungkin akan memberikan cukup waktu anatara dosis pertama dan dosis kedua, seta anatar dosis kedua dengan kelahiran.
  2. Interval imunisasi TT dosis pertama dengan dosis kedua minimla 4 minggu.

TT adalah anti gen yang sangat aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT. Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidk didapatkan perebedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi.

PENILAIAN

Gejala klinik tetanus neonaturum anatara lain sebagai berikut :

  1. Bayi yang semula yang dapat menetek menjadi tidak menetek karena kejangb otot rahang dan faring (tenggorok).
  2. Mulut bayi mencucu sepert mulut ikan.
  3. Kejang terutama apabila terkena rangsang cahaya, suara, dan sentuhan.
  4. Kadang-kadang disertai dengan sesak napas dan wajah bayi membiru.

Sering timbul komplikasi terutama bronckhopneumonia, asfiksia dan sianosis akibat obstruksi jakan napas oleh lendir/secret, dan sepsis.

Tetanus neonatorum harus memenuhi krteria berikut:

  1. Bayi lahir hidup, dapat menangis dan menetek denagn normal minimal 2 hari.
  2. Pada bulan petam kehidupan timbul gejala sulit menetek disertai kekakuan dan/atau kejang otot.
  3. Penanganan
  4. Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan anti kejang
  5. Menjaga jalan napas tetap bebas denga membersihkan jalan napas. Pemasanagn spatel lidah yang di bungkus kain untuk mencegah lidah tergigit.
  6. Mencari temapt masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga.
  7. Mengobati penyebab tetanus dengan anti tetanus serum (ATS) dan antibiotika
  8. Perawatan yang adekuat : kebutuhan oksigen, makanan, keseimbangan cairan dan elektrolit.
  9. Penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang denagn sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya yang akan merangsang kejang.

TANDA-TANDA

Tiba-tiba bayi demam atau panas, mendadak bayi tidak mau/ tidak bisa menetek (mulut tertutup atau trismus), mulut mencucu seperti ikan, mudah sekali kejang (misalnya kalau dipegang, kena sinar, atau kaget-kaget), disertai sianosis, kuduk kaku, posisi punggung melengkung, kepala mendongak ke atas (opistotonus)

KATEGORI

Tetanus neonatorum sedang

Tetanus neonatorum berat

PENILAIAN

  1. Umur bayi
  2. Frekuensi kejang
  3. Bentuk kejang
  1. Posisi badan
  2. Kesadaran
  3. Tanda-tanda infeksi

>7 hari

Kadang-kadang

–          Mulut mencucu

–          Trismus

–          Kejang rangsang (+)

Opistotonus kadang-kadang

Masih sadar

–          Tali pusat kotor

–          Lubang telinga bersih/kotor

0-7 hari

Sering

–          Mulut mencucu

–          Trismus terus menerus

–          Kejang rangsang (+)

Selau opistotonus

Masih sadar

–          Tali pusat kotor

–          Lubang telinga bersih/kotor

PENANGANAN

PUSKESMAS

  1. Bersihkan jalan napas
  2. Masukkan sendok atau spatel dibungkus kain untuk menekan lidah
  3. Beri oksigen
  4. Atasi kejang dengan

–          Diazepam 0,5 mg/kg/i.m atau supositoria

–          Apabila masih kejang ulangi tiap 30 menit

–          Ditambah luminal 30 mg/i.m sampai kejang berhenti

  1. Infus glucose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari
  2. Antibiotika 1 kali (Penisilin Prokain 50.000 kg/hari/i.m)
  3. Bersihkan tali pusat
  4. Rujuk ke rumah sakit

RUMAH SAKIT

  1. Umur lebih dari 24 jam ditambah bikarbonas natrikus 1,5 % (4:1)
  2. Dosis anti kejang i.v.dengan dosis rumat
  3. Diazepam 8-10 mg/kg i.v. di ganti tiap 6 jam
  4. ATS 10.000 U/hari i.m.
  5. Ampisilin 100 mg/kg i.v. atau prokain penisilin 50.000 U/kg i.m. selama 3 hari
  6. Ruang perwatan tenang

PERAWATAN LANJUT BAYI TETANUS

  • Rawat bayi di ruang tenang dan gelap untuk menguragi rangsangan yang tidak perlu, tetapi harus yakin bahwa bayi tidak terlantar.
  • Lanjutkan pemberian cairan IV dengan dosis rumatan.
  • Pasang pipa lambung bila belum terpasang dan beri asi peras diantara peiode spasme. Mulai dengan jumlah setengah kebutuhan perhari dan dinaikkan secara perlahan jumlah ASI yang diberikan sehingga tercapai jumlah yang diperlukan dalam dua hari.
  • Nilai kemampuan minum dua kali sehari dan anjurkan untuk menyusu ASI secepatnya begitu terlihat bayi siap untuk menghisap.
  • Jelaskan kepada ibu bahwa angka kematian tetanus neonatorum masih sangta tinggi (50% atau lebih), tetapi kalau bayi bisa bertahan hidup tidak akan mempunyai dampak penyakitnya dimasa datang.
  • Bila sudah tidka terjadi spasme selama dua hari, bayi minum baik dan tidak ada lagi masalah yang memerlukan perawatan dirumah sakit, maka bayi dapat dipulangkan.
Sumber:
Hj. Deslidel, dkk.. 2008. Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita. Jakarta: EGC
 
http://www.bascommetro.com/2011/10/infeksi-tali-pusat.html#_
http://dianhusadawisnupujirahayu.blogspot.com/p/struktur-fungsi-dan-sirkulasi-tali_04.html
http://www.bascommetro.com/search?q=tetanus+neonatorum#_
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 6, 2013 in Askeb 4 (Kegawatdaruratan)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: