RSS

NEOPLASMA GANAS DAN PAYUDARA

18 Okt
  • Neoplasma

Neoplasmaialah masa jaringan yang abnormal, tumbuh berlebihan , tidak terkordinasi dengan jaringan normal dan tumbuh terus- menerus meskipun rangsang yang menimbulkan telah hilang. Sel neoplasma mengalami transformasi , oleh karena mereka terus- menerus membelah. Pada neoplasma, proliferasi berlangsung terus meskipun rangsang yang memulainya telah hilang. Proliferasi demikian disebut proliferasi neoplastik, yang mempunyai sifat progresif,tidak bertujuan, tidak memperdulikan jaringan sekitarnya,tidak ada hubungan dengan kebutuhan tubuh dan bersifat parasitic.

Sel neoplasma bersifat parasitic dan pesaing sel atau jaringan normal atas kebutuhan metabolismenya pada penderita yang berada dalam keadaan lemah . Neoplasma bersifat otonom karena ukurannya meningkat terus. Proliferasi neoplastik menimbulkan massa neoplasma, menimbulkan pembengkakan / benjolan pada jaringan tubuh membentuk tumor.

A. Klasifikasi dan Tata nama

Semua tumor baik tumor jinak maupun ganas mempunyai dua komponen dasar ialah parenkim dan stroma. Parenkim ialah sel tumor yang proliferatif,yang menunjukkan sifat pertumbuhan dan fungsi bervariasi menyerupai fungsi sel asalnya.

Klasifikasi neoplasma yang digunakan biasanya berdasarkan :

–   Klasifikasi Atas Dasar Sifat Biologik Tumor

Atas dasar sifat biologiknya tumor dapat dibedakan atas tumor yang bersifat jinak ( tumor jinak ) dan tumor yang bersifat ganas (tumor ganas) dan tumor yang terletak antara jinak dan ganas disebut “ Intermediate” .

1) Tumor Jinak ( Benigna )

Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai kapsul. Tidak tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak menimbulkan anak sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada umumnya disembuhkan dengan sempurna kecuali yang mensekresi hormone atau yang terletak pada tempat yang sangat penting, misalnya disumsum tulang belakang yang dapat menimbulkan paraplesia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.

2) Tumor ganas ( maligna )

Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltratif. Dan merusak jaringan sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh tubuh melalui aliran limpe atau aliran darah dan sering menimbulkan kematian.

3) Intermediate

Diantara 2 kelompok tumor jinak dan tumor ganas terdapat segolongan kecil tumor yang mempunyai sifat invasive local tetapi kemampuan metastasisnya kecil.Tumor demikian disebut tumor agresif local tumor ganas berderajat rendah. Sebagai contoh ialah karsinoma sel basal kulit.

–  Klasifikasi atas dasar asal sel / jaringan ( histogenesis )

   Tumor diklasifikasikan dan diberi nama atas dasar asal sel tumor yaitu :

v  Neoplasma berasal sel totipoten

v  Tumor sel embrional pluripoten

v  Tumor sel yang berdiferensiasi

–  Tata nama tumor ini merupakan gabungan berbagai faktor yaitu perbedaan antara jinak dan ganas, asal sel epnel dan mesenkim lokasi dan gambaran deskriptif lain.

a. Tumor epitel

Tumor ganas epitel disebut karsinoma. Kata ini berasal dari kota yunani yang berarti kepiting. Jika berasal dari sel skuamosa disebut karsinoma sel skuamosa. Bila berasal dari sel transisional disebut karsinoma sel transisional. Tumor ganas epitel yang berasal dari epitel belenjar disebut adenokarsinoma.

  • Tumor jaringan mesenkin

 

Tumor ganas jaringan mesenkin yang ditemukan kurang dari 1 persendiberi nama asal jaringan (dalam bahasa latin atau yunani ) dengan akhiran “sarcoma” sebagai contoh tumor ganas jaringan ikat tersebut Fibrosarkoma dan berasal dari jaringan lemak diberi nama Liposarkoma.

  • Tumor campur (mixed Tumor)

 

Neoplasma yang terdiri dari lebih dari 1 jenis sel disebut tumor campur (mixed tumor). Sebagai contoh ialah fibroadenoma mammae terdiri atas epitel yang membatasi lumen, atau celah dan jaringan ikat reneging matriks.

  • Hamartoma dan koristoma

 

Hamartoma ialah lesi yang menterupai tumor. Pertumbuhannya ada koordinasi dengan jaringan individu yang bersangkutan. Tidak tumbuh otonom seperti neoplasma.

  • Kista

 

Kista ialah ruangan berisi cairan dibatasi oleh epitel. Kista belum tentu tumor / neoplasma tetapi sering menimbulkan efek local seperti yang ditimbulkan oleh tumor / neoplasma.

 

  • Sifat  Tumor Ganas

1. Diferensiasi dan Anaplasia

Istilah diferensiasi dipergunakan untuk sel parenkim tumor.

Tumor ganas berkisar dari yang berdiferensiasi baik sampai kepada yang tidak berdiferensiasi . Tumor ganas yang terdiri dari sel-sel yang tidak berdiferensiasi disebut anaplastik. Anaplastik berasal tanpa bentuk atau kemunduran ,yaitu kemunduran dari tingkat diferensiasi tinggi ke tingkat diferensiasi rendah.

Anaplasia ditentukan oleh sejumlah perubahan gambaran morfologik dan perubahan sifat, pada anaplasia terkandung 2 jenis kelainan organisasi yaitu kelainan organisasi sitologik dan kelainan organisasi posisi. Anaplasia sitologik menunjukkan pleomorfi yaitu beraneka ragam bentuk dan ukuran inti sel tumor. Sel tumor berukuran besar dan kecil dengan bentuk yang bermacam-macam . mengandung banyak DNA sehingga tampak lebih gelap (hiperkromatik). Anaplasia posisionalmenunjukkan adanya gangguan hubungan antara sel tumor yang satu dengan yang lain . terlihat dari perubahan struktur dan hubungan antara sel tumor yang abnormal.

2.  Derajat Pertumbuhan

Pada dasarnya derajat pertumbuhan tumor berkaitan dengan tingkat diferensiasi sehingga kebanyakan tumor ganas tumbuh lebih cepat daripada tumor jinak.

Derajat pertumbuhan tumor ganas tergantung pada 3 hal,yaitu :

  • Derajat pembelahan sel tumor
  • Derajat kehancuran sel tumor

 

  1. Sifat elemen non-neoplastik pada tumor

Tumor ganas yang tumbuh cepat sering memperlihatkan pusat-pusat daerah nekrosis / iskemik. Ini disebabkan oleh kegagalan penyajian daerah dari host kepada sel – sel tumor ekspansif yang memerlukan oksigen.

  • Invasi Lokal

 

Tumor ganas tumbuh progresif,invasive,dan merusak jaringan sekitarnya. Pada umumnya terbatas tidak tegas dari jaringan sekitarnya. Namun demikian ekspansi lambat dari tumor ganas dan terdorong ke daerah jaringan sehat sekitarnya. Pada pemeriksaan histologik,masa yang tidak berkapsul menunjukkan cabang – cabang invasi seperti kaki kepiting mencengkeram jaringan sehat sekitarnya. Kebanyakan tumor ganas invasive dan dapat menembus dinding dan alat tubuh berlumen seperti usus,dinding pembuluh darah,limfe atau ruang perineural. Pertumbuhan invasive demikian menyebabkan reseksi pengeluaran tumor sangat sulit.

  • Metastasis / Penyebaran

 

Metastasis adalah penanaman tumor yang tidak berhubungan dengan tumor primer. Tumor ganas menimbulkan metastasis sedangkan tumor jinak tidak. Infasi sel kanker memungkinkan sel kanker menembus pembuluh darah, pembuluh limfe dan rongga tubuh,kemudian terjadi penyebaran. Dengan beberapa perkecualian semua tumor ganas dapat bermetastasis. Kekecualian tersebut adalah Glioma ( tumor ganas sel glia ) dan karsinoma sel basal , keduanya sangat infasif, tetapi jarang bermetastasis.

  • Penyebab Tumor Ganas

        Dua yang dimiliki oleh sel tumor ganas ( kanker ) ialah kemampuan untuk menginvasi jaringan setempat dimana tumor ganas itu tumbuh ( lokal ) dan metastasis / menyebar ketempat yang jauh dari tumor induk. Invasi dan metastasis merupakan sifat biologik utama tumor ganas.

  • Gambaran Klinik Neoplasma

Pengaruh tumor pada penderita :

  • Akibat local

Masa jaringan tumor yang tumbuh menimbulkan tekanan pada alat – alat penting di sekitarnya. Misalnya pembuluh darah, saraf,saluran visceral,duktus dan alat padat yang menimbulkan berbagai komplikasi.

  • Akibat umum

Pada umumnya penderita kanker menjadi kurus diikuti oleh badan lemah,anemia, dan anoreksia.Koheksi (kumpulan gejala- gejala) disebabkan oleh kelainan metabolisme ,bukan dari kebutuhan makanan ,melainkan akibat dari kerja factor terlarut seperti sitoksin yang diproduksi tumor.

  • Aktivitas Fungi

Aktifitas fungi lebih khas pada tumor jinak dari pada tumor ganas / kanker,karena tumor ganas selnya udak berdiferensiasi maka kemampuannya hilang.

  • Penyebab Kanker

Segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya kanker disebut karsinogen. Dan berbagai penelitian dapat diketahui bahwa karsinogen dapat dibagi ke dalam 4 golongan :

1. Bahan kimia

Kebanyakan karsinogen kimia ialah pro-karsinogen . Yaitu karsinogen yang memerlukan perubahan metabolis agar menjadi karsinogen aktif, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada DNA, RNA, atau Protein sel tubuh.

2. Virus

Virus yang bersifat karsinogen disebut virus onkogenik. Virus DNA dan RNA dapat menimbulkan transformasi sel. Mekanisme transformasi sel oleh virus RNA adalah setelah virus RNA diubah menjadi DNA provirus oleh enzim reverse transeriptase yang kemudian bergabung dengan DNA sel penjamin. Setelah mengenfeksi sel, materi genitek virus RNA dapaat membawa bagian materi genitek sel yang di infeksi yang disebut V-onkogen kemudian dipindahkan ke materi genitek sel yang lain.

3. Radiasi (ion dan non-ionisasi)

Radrasi UV berkaitan dengan terjadinya kanker kulit terutama pada orang kulit putih. Karena pada sinar / radiasi UV menimbulkan dimmer yang merusak rangka fosfodiester DNA.

4. Agen biologic

  • Hormon : bekerja sebagai kofaktor pada karsinogenesis
  • Mikotoksin : Mikotoksin ialah toksin yang dibuat oleh jamur
  • Parasit : Parasit yang dihubungkan dengan terjadinya kanker ialah schistosoma dan clonorchis sinensis.

  • Faktor-faktor  yang mempengaruhi angka kejadian kanker :
  1. Jenis kelamin
  2. Umur
  3. Ras ( suku bangsa )
  4. Lingkungan
  5. Geografik
  6. Herediter
  • Kanker Serviks Uteri beserta Kanker Payudara

 A. Carsinoma Cervix/kanker leher rahim

Kanker merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk pertumbuhan yang ganas, otomatis dan tidak terkontrol  dari sel-sel pada jaringan. Pertumbuhannya membentuk tumor, merusak jaringan normal, dan merebut gizi serta oksigen jaringan normal. Penyebaran terjadi saat kelompok kecil sel terlepas dari tumor induk, dan terbawa ke tempat lainnya melalui pembuluh darah dan lympha dan mulai menjadi tumor baru seperti induk nya (WHO, 2006).

     Dari pengertian diatas maka kanker serviks merupakan pertumbuhan yang ganas, otomatis dan tidak terkontrol dari sel-sel pada jaringan cervix.

ü Angka kejadian

Secara global, setiap tahun diperkirakan terjadi kasus baru penderita kanker servix sebanyak 493.243 jiwa dan kematian karena kanker ini sebanyak 273.505 jiwa pertahun. Kematian karena penyakit kanker leher rahim di dunia adalah separuh dari jumlah angka kematian maternal setiap tahunnya (Hill, et al.2007). Di Negara maju, kejadian kanker servix sekitar 4% dari seluruh kejadian kaknker pada wanita, sedangkan di Negara berkembang termasuk asia tenggara mencapai 15%.

Di Indonesia, diperkirakan 15.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi setiap tahunnya, dan kematian karena kanker ini diperkirakan 7500 kasus pertahun, serta menduduki urutan penyebab keamtian yang kedua setelah kanker payudara pada wanita usia subur 15-44 tahun. (Castellsague,et.al, 2007).

ü Etiologi kanker servix

Perjalanan alamiah kanker servix diawali dengan infeksi Human Papiloma Virus (HVP) yang umumnya terjai pada perempuan usia reproduksi. Infeksi HPV yang menyebabkan kanker servix hampir 70% merupakan HPV tipe 16 dan 18. Tipe onkogenik lainnya (seperti tipe 31,33,45 dan 58) lebih jarang ditemukan. HPV tipe low-risk (tipe 6 dan 11) tidak berkaitan dengan kanker, tetapi menyebabkan kulit genital.

Infeksi HPV dapat sembuh spontan, atau dapat menetap sehingga menyebabkan dysplasia sel (kelainan perkembangan dalam bentuk, ukuran dan  organisai sel). Displasia tingkat rendah (low-grade dysplasia) biasanya bersifat sementara dan menghilang, namun pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi dysplasia tingkat tinggi (high-grade dysplasia). Setelah infeksi awal terjadi, HPV memerlukan waktu beberpa bulan atau beberapa tahun untuk dapat menimbulkan low-grade dysplasia. Bila berlangsung terus menerus, lowgarde dysplasia dapat berkembang menjadi high-grade dysplasia yang merupakan awal terjadinya kanker serviks. Perempuan dengan high-grade dysplasia berisiko mengalami kanker invasive, proses ini umumnya terjadi secara lambat dan memerlukan waktu bertahun-tahun (ACCP-PATH, 2003).

Diperlukan waktu yang dibutuhkan bervariasi dari awal terjadinya infeksi HPV hingga berkembangnya kanker, 60 %kasus dysplasia ringan sembuh secara spontan dan hanya sekitar 10% berkembang kea rah dysplasia sedang atau berat dalam waktu 2-4 tahun. Dalam beberapa kasus dysplasia sedang atau berat dapat terjadi tanpa bisa terdeteksi pada tahap awal. Kurang dari 50% kasus dysplasia berat berkembang menjadi karsinoma invasive. Dari teridentifikasinya dysplasia ringan biasanya memerlukan waktu 10-20 tahun untuk berkembang menjadi kanker invasive, hal ini memungkinkan pengendalian kanker serviks dapat dilakukan melalui skrining dan penanganan yang efektif (WHO,2006).

Kebanyakan infeksi awal HPV berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun, apabila sudah mengalami progesivitas, maka kemungkinan gejala yang muncul adalah:

  • Perdarahan setelah senggama
  • Perdarahan yang terjadi diantara periode menstruasi
  • Timbulnya keputihan yang bercampur darah dan berbau
  • Nyeri panggul atau tidak bisa buang air kecil
  • Nyeri ketika berhubungan seksual

  • Faktor Risiko

Kanker leher rahim tidak menular , tetapi infeksi HPV dapat terjadi pada wanita dan pria yang menular secara seksual. Determinan kunci dari infeksi  HPV pada pria dan wanita  berkaitan dengan perilaku seksual, seperti mamulai hubungan seksual pada usia dini, memiliki banyak pasangan seksual (berganti-ganti) atau memiliki pasangan yang memilki banyak pasangan seksual. Infeksi HPV high-risk merupakan penyebab yang mendasari kanker serviks, namun kebanyakan perempuan yang terinfeksi tidak mengalami kanker karena infeksi berlangsung singkat dan sedikit yang berkembang menjadi lesi prakanker atau kanker invasive.

Kondisi atau kofaktor yang mnyebabkan infeksi HPV menetapa dan berkembang menjadi kanker tidak diketahui secara pasti, tetapi menurut WHO, Berg dan Atkins (2004) serta national Cancer Institute (NCI) (2009), kondisi-kondisi berikut diduga berperan :

  • Kofaktor terkait HPV

Tipe virus, infeksi yang lama (menetap) dengan beberapa tipe virus onkogenik, jumlah virus yang menginfeksi.

  • Kofaktor terkait host
    • Status daya tahan tubuh, misalnya orang-orang dengan immunodeficiency (seperti terinfeksi HIV) mengalami infeksi yang lebih menetap dan lebih cepat berkembang menjadi pra kenker dan kanker.
    • Paritas : risiko kanker serviks meningkat dengan bertambahnya paritas (>5kali) terutama dengan suami yang berganti-ganti.
      • Paling sering dijumpai pada wanita usia 40-50 tahun.
      • Nutrisi
      • Kemiskinan
      • Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan/skrining

  • Kofaktor eksogen
    • Kebiasaan merokok. Dalam rokok terkandung zat yang dapat melemahkan epitel
    • Koinfeksi dengan HIV atau agen menular seperti herpes simplex virus 2 (HSV-2), klamidia trakomatis dan neisseeria gonorrhoeae
    • Menggunakan kontrasepsi oral hormonal kombinasi jangka lama (>5tahun), karena dapat menyuburkan HPV.

 

  • Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks

Pencegahan primer

  • Dengan pemberian promosi dan edukasi kesehatan
  • Dengan pemberian vaksin HPV

Stategi lain yang ditemukan untuk pencegahan kanker serviks adalah dengan vaksinasi HPV. Tahun 2006, Food and Drug administration  (FDA) melisensikan suatu vaksin untuk menurunkan risiko kanker serviks. The Advisory Committee Immunization Practices (ACIP) merekomindasikan penggunaan vaksin ini untuk perempuan usia 9-26 tahun, namun vaksin ini bukanlah pengganti skrining yang direkomendasikan, skrining masih menjadi metode penting dalam pencegahan kanker serviks. Vaksin HPV memiliki efikasi yang tinggi untuk mencegah infeksi HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.

Vaksin ini diberikan intramuskuler  (IM) 0,5 mL sebanyak 3 kali, dimana dosis kedua diberikan 2 bulan setelah pemberian dosis pertama dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama. Vaksin HPV paling efektif pada wanita yang belum pernah terpapar virys HPV, maka program imunisasi tersebut sebaiknya diprioritaskan pada remaja. Efektivitas vaksin yang diberikan pada usia 9-15 tahun 2-3 kali dibandingkan bila diberiakn pada usia 16-26 tauhn. Penelitian sedang dilakukan untuk vaksinasi pada perempuan usia lebih dari 26 tahun.

Pencegahan Sekunder

  • Srining kanker serviks

Commission on Chronic Illness  (CCI), seperti yang disitasi oleh Wilson dan junger (1968) mendefinisikan skrining sebagai identifikasi untuk menduga keberadaan penyakit atau kelainan yang tidak nampak melalui tes, pemeriksaan, atau prosedir lainnya yang dapat diaplikasikan secara cepat. Skiring memisahkan oang yang nampak sehat yang mungkin memiliki penyakit dari orang yang mungkin tidak memiliki penyakit. Skrining buakn sebuah diagnose. Seseorang dengan hasil skrining positif atau ditemukan sebagai tersangka dirujuk kepada dokter untuk keperluan diagnose dan penanganan yang diperlukan.

Perempuan yang menjadi sasaran skrining kanker serviks mungkin mersa benar-benar sehat dan mungkin tidak memiliki alasan untuk datang ke fasilitas kesehatan (WHO,2006). WHO menyatakan bahwa skrining dilakukan pada semua perempuan berisiko kanker serviks, termasuk yang tidak memiliki gejala, bertujuan untuk mendeteksi perubahan-perubahan prakanker, yang bila tidak ditangani kemungkinan akan menyebabkan kanker.

Rekomendasi WHO (2006) berkaitan dengan skrining adalah :

Usia sasaran dan frekuensi skrining yang direkomendasikan adalah :

  • Skrining dimulai pada usia 30 tahun ke atas, perempuan yang lebih muda dapat dimasukan dalam sasaran jika kelompok risiko tinggi telah tercakup.
  • Jika skrining dilakukan hanya dapat sekali seumur hidup karena keterbatasan dana, maka usia terbaik adalah 35-45 tahun.
  • Bagi perempuan diatas 50 tahun, interval skrining yang sesuai adalah tauh tiga tahun.
  • Pada kelompok usia 25-49 tahun, skrining perlu dilakukan setiap tiga tahun.
  • Skrining setiap tahun tidak direkomendasiakan pada semua usia.
  • Skiring tidak diperluakn pada perempuan usia lebih dari 65 tahun, jika dua kali hasil tes sebelumnya negative.

Macam-macam skrining :

  1. PAP smear

Pap smear berasal dari PAP: Papanicolau (penemu metode ini), dan smear :usapan. Pap Smear merupakan pemeriksaan  sederhana yang dikembangkan oleh  Dr. George N. Papanicalaou untuk penapisan awal dari gejala kanker leher rahim. Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi eksfoliative dengan memeriksa  sel-sel epitel cervix yang lepas. Pemeriksaan ini lebih mudah, murah, sederhana, aman dan akurat. Di negara maju, skrinning Pap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker, menurunkan insiden dan menurunkan angka kematian akibat kanker serviks sampai 70-80%.WHO memperkirakan skrining dengan Pap smear setiap 3 tahun dapat menurunkan insiden kanker leher rahim sampai 90,8%, skrining 5 tahun 83,6% dan skrining 10 tahun hanya 64,1%.

Tujuan tes Pap adalah menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi HPV. Kanker serviks merupakan penyakit menular seksual, bila penyakit prakanker/ displasia ditemukan lebih dini kemungkinan angka penyembuhan mencapai 80-90 % tergantung beratnya lesi dan cara pengobatannya.

Pelaksanaan Pap Smear :

1. Persiapan klien

  • Pada saat pap smear, usahakan otot-otot  vagiana rileks
  • Tidak melakukan hubungan suami istri 72 jam sebelum pap smear.
    • Waktu paling baik untuk pengambilan pap smear adalah 2 minggu setelah haid (minimal 3 hari setelah selesai haid).
    • Jangan menggunakan pembasuh antiseptic atau sabun antiseptic di sekitar vagina selama 72 jam sebelum pap smear.

2. Persiapan alat :

  • ·Lampu sorot
  • ·Bak steril
  • ·Speculum
  • ·Spatula ayre/brush
  • ·Objek glass alcohol 96%
  • ·Kain penutup/selimut
  • ·Hand scoon DTT/steril
  • ·Bengkok
  • ·Tempat pemrosesan alat
  • ·Larutan klorin

3. Penatalaksanaan

  • Atur peralatan dan bahan yang akan digunkan dalam tempat steril.
  • Siapkan lampu sorot yang terang untuk melihat serviks.
    • Persiapkan klien untuk naik ke tempat tidur ginekologi dengan posisi litotomi.
    • Kenakan kain penutup untuk pemeriksaan panggul.
    • Pakai sarung tangan steril.
    • Lakukan inspeksi genetalia externa
    • Masukan speculum dengan tetap memperhatikan keadaan klien.
      • Lakukan pemeriksaan speculum (inspeksi serviks dengan melihat apakah ada lesi keputihan).
      • Ambil uspan lendir serviks dari zona transformasi serviks 9mulut serviks), dengan menggunakan spatula ayre/brush dengan mengusapkan 360 * dipermukaan mulut serviks.
      • Hasil usapan dioleskan pada kaca objek/objek glass secara merata (objek glass tersebut sebelumnya telah diberi identitas dengan pensil 2B).
      • Masukan kaca objek ke dalam cairan alcohol 965.
      • Buka sarung tangan dan masukan ke larutan klorin.
      • Lakukan pemrosesan alat-alat
      • Kirim hasil usapan ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.

2. IVA (Inspeksi Visual Asetat) test

IVA test adalah alternative dari pemeriksaan sitologis untuk skrining kanker servix dengan pemeriksaan secara visual setelah menyemprotkan asam asetat pada leher rahim. Keunggulan dari pap smear yaitu lebih sederhana , murah, cepat, hasil segera diketahui dan pelatihan tenaga kesehatan lebih mudah dilakukan.

Laporan WHO, IVA test dapat mendeteksi lesi tingkat atas prakanker dengan sensitifitas antara 66-96% dan spesifisitas antara 64-98%. Pada IVA test, asam asetat disemprotkan ke bagian serviks. Jika bagian serviks yang semula berwarna merah muda berubah menjadi putih (sedang menunggu reaksi sekitar 2 menit), maka dalam waktu 5-19 tahun kemungkinan akan menjadi prakanker. Apabila hasil pemeriksaan Aceto White (+), maka sebaiknya dilanjutkan dengan pemerikssan  Pap semar.

B. Ca Mammae / Kanker Payudara

Definisi

Kanker payudara adalah suatu bentuk pentakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel(jaringan) payudara.

Klasifikasi:

Berdasarkan WHO Histological Classification of brest tumor , kanker payudara diklasifikasikan sebagai berikut:

Non –invasif karsinoma

Kanker yang terjadi pada kantung(tube) susu penghubung antara alveolus(kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara. Dalam bahasa kedokteran disebut ‘ductal carcinoma in situ’ (DCIS), yang mana dokter belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.

  • Non –invasif karsinoma
  • Lobular karsinoma in situ

Invasif karsinoma

Kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metatase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.

Staging  (Penentuan  Stadium Kaker)

Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up dan menentukan prognosis. Staging kanker payudara (American Joint Comittee on Cancer):

ü  Stadium 0

Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya didalam jaringan payudara yang normal.

ü  Stadium I

Tumor dengan garis tengah kurang dari 2cm dan belum menyebar keluar payudara.

ü  Stadium IIA

Tumor dengan garis tengah 2-5cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2cm tetapi sudah menyebar ke ke kelenjar getah bening ketiak.

ü  Stadium IIB

Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

ü  Stadium IIIA

Tumor dengan garis tengah kurang dari 5cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketan ke struktur lainnya atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

ü  Stadium IIIB

Tumor telah menyeusup ke keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding dada dan tulang dada.

ü  Stadium IV

Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada misalnya ke hati, tulang dan paru-paru.

Gejala Klinis

Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:

  • Benjolan pada payudara

Umumnya benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil semakin lama akan semakin besar lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.

  • Erosi atau eksema puting susu

Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (dimpling sign), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu semakin lama akan semakin besar dan dalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk dan mudah berdarah.

  • Perdarahan pada pusting susu
  • Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul apabila tumor sudah besar, sudah timbul borok, atau apabila sudah muncul metastase ke tulang-tulang.
  • Kemudian timbul pembesaran-pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh.

Faktor –faktor Penyebab

Menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara  diantaranya:

  • Faktor reproduksi

Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara adalah nuliparitas, menarche sebelum umur 11 tahun, menopause setelah umur 54 tahun, kehamilan dan melahirkan pertama pada usia 40 tahun.

Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation  perkembangan kanker payudara. Secara anatomi atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payuadara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perebuhan klinis.

  • Penggunaan hormon

Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen replanement digunakan >10 tahun. Selain itu penggunaan kontrasepsi oral > 10  tahun.

  1. Obesitas : BMI > 35
  2. Faktor gaya hidup : diet lemah jenuh tinggi, menggunakan alkohol.
  3. Radiasi
  4. Riwayat keluarga dan faktor genetik.

 Strategi Pencegahan Kanker Payudara

  • Pencegahan primer

ü  Pencegahan primer adalah pencegahan yang paling utama. Caranya adalah dengan upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor resiko dan melaksanakan pola hidup sehat.

ü  Cara ini dilakukan oleh para wanita yang belum sama sekali terdeteksi adanya kanker payudara. Hal ini sangat bagus bila dilakukan sebab dapat mencegah kanker payudara secara dini.

Hal-hal yang dilakukan dengan pencegahan primer adalah :

  1. Membatasi konsumsi alkohol
  2. Menjaga berat badan ideal
  3. Menggabungkan aktifitas fisik kedalam kehidupan sehari-hari
  4. Mengkonsumsi makanan kaya serat dan rendah lemak
  5. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran
  6. Jangan menggunakan bra yang terlalu ketat terlalu lama. Kalau bisa ketika tidur bra dilepas.
  7. Menghindari stress
  8. Memperbanyak konsumsi kacang kedelai seperti tempe, tahu, dan sebagainya. Kacang kedeelai mulai mengandung fitoestrogen genistein yang dapat membantu mengurangi resiko tumbuhnya kanker payudara.

  • Pencegahan sekunder

ü  Terkadang kita tidak tahu bahwa kita dapat terkena resiko kanker payudara. Dari pola makan yang salah atau dari riwayat keluarga yang pernah menderita kanker ini. Pencegahan sekunder menrupakan pencegahan yang dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk terkena kanker payudara.

ü  Setiap wanita yang normal dan memiliki status haid normal merupakan populasi at risk dari kanker payuadara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi ini terus mengalami perkembangan.

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah resiko datangnya kanker payudara adalah dengan cara:

  1. Wanita usia > 20 tahun dianjurkan melakukan SADARI selama 1bulan sekali agar kanker dapat terdeteksi secara dini. Jika ada benjolan atau hal-hal yang mencurigakan segeralah menghubungi dokter.
  2. Wanita usia 35-40 tahun melakukan mamografi, saat baik melakukan mamografi adalah seminggu setelah menstruasi.
  3. Wanita berusia diatas 40 tahun melakukan check up pada dokter ahli atau melakukan cancer risk assessement survey.
  4. Wanita berusia lebih dari 50 tahun check up rutin dan mammografi setiap tahun.

Pengertian Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) 

ü  Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemeriksaan payudara setiap wanita. Pemeriksaan payudara sendiri dilakukan setiap 1 bulan sekali dan dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mengetahui lesi payudara.

ü  Menurut Smeltzer SADARI adalah pemeriksaan payudara sendiri antara hari ke 2 dan ke 10 dari siklus menstuasi dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari.

ü  Deteksi dini kanker payudara adalah program pemeriksaan untuk mengenali kanker payuadara sewaktu masih berukuran kecil, dan sebelum kanker tersebut mempunyai kesempatan untuk menyebar.

ü  Kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan pemeriksaan SADARI, pemeriksaan klinik dan pemeriksaan mammografi. Deteksi dini dapat  menekan angka kematian sebesar 25-30%.

Langkah –langkah Sadari

  • Di depan cermin perhatikan apakah kedua payudara simetris. Perhatikan kalua ada sesuatu yang tidak biasa, seperti perubahan bentuk, perubahan warna, atau bentuk yang lain dari biasanya. Selanjutnya perhatiakan apakah ada perubahan pada puting, adanya kerutan, puting yang masuk ke dalam atau pengelupasan kulit.
  • Angkat kedua lengan ke atas sambil perhatikan apakah kedua payudara tetap simtris. Kemudian turunkan tangan ke pinggang tekan tangan anda erat pada pinggul dan sedikit menunduk ke depan cermin ketika anda menarik punggung dan sikut ke depan
  • Gunakan tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan dengan cara merabanya dan juga sebaliknya. Angkat tangan kanan, gunakan tiga atau empat jari tangan kiri untuk merasakan kanan dengan teliti dan menyeluruh. Dimulai dari ujung bagian luar, tekan dengan bagian jari dalam gerakan melingkar kecil, bergerak perlahan di sekitar payudara. Anda dapat memulai pada bagian ujung payudara dan secara perlahan bergerak ke bagian puting atau sebaliknya. Yang perlu diperhatikan adalah meraba seluruh bagian payudara termasuk daerah ketiak. Ulangi langkah tersebut untuk payudara kiri.
  • Rasakan adanya perubahan dengan cara berbaring. Letakkan bantal kecil di bawah bahu kanan, lengan kanan di bawah kepala. Periksa payudara kanan dengan tangan kiri dengan meratakan jari-jari secara mendatar untuk merasakan adanya benjolan. Periksa pula lipatan lengan, batas luar payudara, dan seluruh payudara. Ulangi pemeriksaan untuk payudara kiri.
  • Perhatikan tanda-tanda keluarnya cairan ataupun perdarahan dari puting susu. Caranya dengan memencet puting susu dan melihat apakah ada cairan atau darah yang keluar.

 

  • Pencegahan Tersier

Pencegahan ini ditunjukan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan ini untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan.

Tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan :

1. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara

  • Modified Radical Mastectomy

Yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga serta benjolan di sekitar ketiak.

  • Total (Simple) Mastectomy

Yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja tetapi bukan kelenjar di ketiak.

  • Radical Mastectomy

Yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Biasanya disebut lumpectomy yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker bukan seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya 2cm dan letaknya di pinggir payudara.

2. Radiasi

Penyinaran atau radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit disekitar payudara menjadi hitam, serta hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat radiasi.

 3. Kemoterapi

Adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker di payudara, tapi juga di seluruh tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.

Sumber:
Depkes. 2008. Kanker Payudara di Indonesia. http;//www.depkes.com
Bambang. 2010. Stadium Penyakit Kanker Payudara. http;//www.infokespro.com
FKUI. 2005. Deteksi Dini Kanker Payudara. Jakarta:FKUI
Akhyar, Ahmad. 2011. Pengertian Neoplasma. http://neoplasma-ahmad-akhyar.blogspot.com/
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: