RSS

KONTRASEPSI SUNTIKAN

23 Sep

A. Pengertian Kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘mencegah’ atau ‘melawan’ dan konsepsi yang berartipertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi moderen (metode efektif).

  • Manfaat penggunaan KB

a)      Aman artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat bila di gunakan.
b)      Berdaya guna, artinya bila digunakan sesuai aturan akan dapat mencegah kehamilan.
c)      Dapat diterima bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya masyarakat.
d)      Terjangkau.
e)      Bila metode tersebut dihentikan penggunaanya, klien akan segera kembali kesuburanya, kecuali kontap.

  • Faktor- faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelayanan KB:

a)      Status kesehatan
b)      Efek samping potensial
c)      Konsekuensi kegagalan
d)     Besar keluarga yang direncanakan
e)      Persetujuan pasangan
f)       Norma budaya lingkungan dan orang tua.
 

B. Latar belakang dan sejarah Alat kontrasepsi suntikan

Alat kontrasepsi suntikan progestin yang pertama dikembangkan tahun 1953 oleh Karl Junkman . tahun 1957 Junkman dan kawan-kawan menemukan NET EN. Pada saat yang sama, Upjohn Company di AS menemukan DMPA yang berasala dari hormon alamiah progesteron.

NET EN merupakan suntiukan progestin pertama yang dipakai sebagai kontrasepsi, dan diberi nama dagang Noristerat. Percobaan- percobaan klinik pertama dari DMPA sebagai metode kontrasepsi dimulai pada tahun 1963, diikuti percobaan- percobaan di lapangan pada tahun 1965.

Tahun 1967 Upjhon Company meminta izin FDA US (“POM”nya AS) untuk memasarkan DMPA sebagai kontrasepsi di AS. Pada saat itu telah diketahui dengan jelas bahwa estrohen dalam kontrasepsi hormonal per-oral merupakan penyebab dari timbulnya efek samping seperti mual, muntah, timbulnya bekuan darah. Sehingga adanya metode kontrasepsi yang bebas estrogen seperti DMPA dan Mini-Pil mmerupakan hal yang sangat menarik. Tetapi pada tahun 1970, penelitian- penelitian menunjukkan bahwa prigestin, termasuk DMPA, menyebabkan timbulnya benjolan- benjolan pada payudara binatang percobaan anjing beogle, sehingga menyebabkan timbulnya kewaspadaan dari FDA.

Bulan september 1974 FDA menyatakan keinginan tetapi untuk menyetujui DMPA sebagai suatu metode kontrasepsi tetapi hanya bagi wanita yang telah mengalami kegagalan kontrasepsi dengan metode lain.

Tidak berapa lama setelah itu, FDA kembali menangguhkan maksudnya tersebut, setelah timbul pertanyyan apakan DMPA dapat meninggikan risiko karsinoma serviks. Tahun 1975 dinyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti bertambahnya risiko karsinoma serviks, dan diusulkan kembali penggunaan DMPA untuk kalangan wanita yang terbatas.

Tetapi pada tahun 1978 FDA secara rewsmi menolak pemakaian DMPA sebagai suatu metode kontrasepsi, dengan alasan :

  1. Masalah timbulnya benjolan- benjolan pada payudara binatang percobaan anjing beogle yang diberikan DMPA belum dipecahkan.
  2. Adanya risiko yang potensial timbulnya cacat bawaan pada kasus kegagalan kontrasepsi.
  3. Pemberian estrogen untuk menanggulangi perdarahan haid ireguler karena DMPA, akan mengurangi keuntungan dari kontrasepsi berisi progesteron saja.
  4. Belum dapat ditunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak dari pemakaian DMPA di AS.

Di samping itu, pihak-pihak yang tidak menyetujui metode kontrasepsi suntikan juga mengatakan bahwa :

  1. Wanita mungkin tidak mengetahui obat apa yang disuntikan kepadanya atau wanita disuntik tanpa seizinnya (tanpa inform consent).
  2. Sebagai obat suntik berdaya kerja panjang efeknya termasuk efek samping utama maupun yang minor, tidak dapat segera dihentikan dengan cara menghentikan suntikan.

Baru pada bulan oktober 1992 FDA menyetujui Depo-Provera sebagai kontrasepsi suntikan.

 

C. Pengertian Kontrasepsi Suntikan

Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman.

Sebelum disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu untuk memastikan kecocokannya. Suntikan diberikan saat ibu dalam keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai persyaratan sama dengan pemakai pil, begitu pula bagi orang yang tidak boleh memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB hormonal selama maksimal 5 tahun.

D. Jenis KB Suntik

    • Jenis-jenis KB suntik yang sering digunakan di Indonesia antara lain:Suntikan / bulan ; contoh : cyclofem

Suntikan KB ini mengandung kombinasi hormon Medroxyprogesterone Acetate (hormon progestin) dan Estradiol Cypionate (hormon estrogen). Komposisi hormon dan cara kerja Suntikan KB 1 Bulan mirip dengan Pil KB Kombinasi. Suntikan pertama diberikan 7 hari pertama periode menstruasi Anda, atau 6 minggu setelah melahirkan bila Anda tidak menyusui.

    • Suntikan / 3 bulan ; contoh : Depoprovera, Depogeston.

Suntikan KB ini mengandung hormon Depo Medroxyprogesterone Acetate (hormon progestin) 150 mg. Sesuai dengan namanya, suntikan ini diberikan setiap 3 bulan (12 Minggu). Suntikan pertama biasanya diberikan 7 hari pertama periode menstruasi Anda, atau 6 minggu setelah melahirkan. Suntikan KB 3 Bulanan ada yang dikemas dalam cairan 3ml atau 1ml.

Image

E. Cara Kerja KB Suntik

  • Menghalangi ovulasi (masa subur)
  • Mengubah lendir serviks (vagina) menjadi kental
  • Menghambat sperma & menimbulkan perubahan pada rahim
  • Mencegah terjadinya pertemuan sel telur & sperma
  • Mengubah kecepatan transportasi sel telur.

Suntikan KB adalah suatu cairan berisi zat untuk mencegah kehamilan selama jangka waktu tertentu (antara 1 – 3 bulan). Cairan tersebut merupakan hormon sistesis progesteron. Pada saat ini terdapat dua macam suntikan KB, yaitu golongan progestin seperti Depo-provera, Depo-geston, Depo Progestin, dan Noristat, dan golongan kedua yaitu campuran progestin dan estrogen propionat, misalnya Cyclo Provera. Hormon ini akan membuat lendir rahim menjadi kental, sehingga sel sperma tidak dapat masuk ke rahim. Zat ini juga mencegah keluarnya sel telur (ovulasi) dan membuat uterus (dinding rahim) tidak siap menerima hasil pembuahan

Hanafi Hartanto (1996) menjelaskan mekanisme kerja kontrasepsi suntik dalam dua bagian, yaitu primer dan sekunder. Mekanisme primer adalah mencegah ovulasi. Pada mekanisme ini, kadar FSH dan LH menurun dan tidak terjadi sentakan LH. Respons kelenjar hipofise terhadap gonadotropin-releasing hormon eksogenous tidak berubah, sehingga memberi kesan proses terjadi di hipotalamus dari pada di hipofise. Ini berbeda dengan pil oral kombinasi (POK), yang tampaknya menghambat ovulasi melalui efek langsung pada kelenjar hipofise. Penggunaan kontrasepsi suntikan tidak menyebabkan keadaan hipo-estrogenik.

Pada pemakaian KB Suntik Depoprovera, endometrium menjadi dangkal dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma menjadi oedematous. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau hanya terdapat sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi, perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam waktu 90 hari setelah suntikan berakhir.

Pada mekanisme sekunder, lendir serviks menjadi kental dan sedikit sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa. Mekanisme sekunder ini juga membuat endometium kurang layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi. Mekanisme ini mungkin juga mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopii.

Pemberian hormon progestin akan menyebabkan pengentalan mukus serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga mencegah pelepasan sel telur yang dikeluarkan tubuh wanita. Tanpa pelepasan sel telur, seorang wanita tidak akan mungkin hamil. Selain itu pada penggunaan Depo Provera, endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas kelenjar. Sedangkan hormon progestin dengan sedikit hormon estrogen akan merangsang timbulnya haid setiap bulan.

F. Keuntungan KB Suntik

Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara yang paling baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1% pertahun (Saifuddin, 1996). Suntikan KB tidak mengganggu kelancaran air susu ibu (ASI), kecuali Cyclofem. Suntikan KB mungkin dapat melindungi ibu dari anemia (kurang darah), memberi perlindungan terhadap radang panggul dan untuk pengobatan kanker bagian dalam rahim.

Kontrasepsi suntik memiliki resiko kesehatan yang sangat kecil, tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri. Pemeriksaan dalam tidak diperlukan pada pemakaian awal, dan dapat dilaksanakan oleh tenaga paramedis baik perawat maupun bidan. Kontrasepsi suntik yang tidak mengandung estrogen tidak mempengaruhi secara serius pada penyakit jantung dan reaksi penggumpalan darah.

Oleh karena tindakan dilakukan oleh tenaga medis/paramedis, peserta tidak perlu menyimpan obat suntik, tidak perlu mengingat setiap hari, kecuali hanya untuk kembali melakukan suntikan berikutnya. Kontrasepsi ini tidak menimbulkan ketergantungan, hanya saja peserta harus rutin kontrol setiap 1, 2 atau 3 bulan. Reaksi suntikan berlangsung sangat cepat (kurang dri 24 jam), dan dapat digunakan oleh wanita tua di atas 35 tahun, kecuali Cyclofem.

G. Kerugian dan Efek Samping

  • Gangguan haid. Siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, spotting, tidak haid sama sekali.
  • Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu
  • Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
  • Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
  • Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan densitas tulang
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, dan jerawat.

Efek yang terakhir dan efek peningkatan berat badan terjadi karena pengaruh hormonal, yaitu progesterone. Progesterone dalam alat kontrasepsi tersebut berfungsi untuk mengentalkan lendir serviks dan mengurangi kemampuan rahim untuk menerima sel yang telah dibuahi. Namun hormon ini juga mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak, sehingga sering kali efek sampingnya adalah penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan bertambah dan menurunnya gairah seksual.

Salah satu sifat lemak adalah sulit bereaksi atau berikatan dengan air, sehingga organ yang mengandung banyak lemak cenderung mempunyai mempunyai kandungan air yang sedikit / kering. Kondisi ini juga terjadi pada vagina sebagai akibat sampingan dari hormon progesteron. Vagina menjadi kering, sehingga merasa sakit (dispareuni) saat melakukan hubungan seksual, dan jika kondisi ini berlangsung lama akan menimbulkan penurunan gairah atau disfungsi seksual pada wanita.

Beberapa efek samping yang biasa ditemui pada penggunaan Suntikan KB 3 Bulan adalah:

  • Timbul pendarahan ringan (bercak) pada awal pemakaian
  • Rasa pusing, mual, sakit di bagian bawah perut juga sering dilaporkan pada awal penggunaan
  • Kemungkinan kenaikan berat badan 1 – 2 kg. Namun hal ini dapat diatasi dengan diet dan olahraga yang tepat
  • Berhenti haid (biasanya setelah 1 tahun penggunaan – namun bisa lebih cepat). Namun, tidak semua wanita yang menggunakan metode ini terhenti haid nya
  • Kesuburan biasanya lebih lambat kembali. Hal ini terjadi karena tingkat hormon yang tinggi dalam suntikan 3 bulan, sehingga butuh waktu untuk dapat kembali normal (biasanya sampai 4 bulan).

Untuk Suntikan KB 1 Bulan, efek samping yang terjadi mirip dengan efek samping yang ditimbulkan pada penggunaan Pil KB.. Berbeda dengan Suntikan KB 3 Bulan, pengguna Suntikan KB 1 Bulan dilaporkan tetap mendapatkan haid-nya secara teratur. Kesuburan pun lebih cepat kembali setelah penghentian metode ini dibandingkan dengan Suntikan KB 3 Bulan.

H. Indikasi

Indikasi pemakaian kontrasepsi suntik antara lain jika klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, tapi saat ini belum siap. Kontrasepsi ini juga cocok untuk klien yang menghendaki tidak ingin menggunakan kontrasepsi setiap hari atau saat melakukan sanggama, atau klien dengan kontra indikasi pemakaian estrogen, dan klien yang sedang menyusui. Klien yang mendekati masa menopause, atau sedang menunggu proses sterilisasi juga cocok menggunakan kontrasepsi suntik.

I. Kontra Indikasi

Beberapa keadaan kelainan atau penyakit, merupakan kontra indikasi pemakaian suntikan KB. Ibu dikatakan tidak cocok menggunakan KB suntik jika ibu sedang hamil, ibu yang menderita sakit kuning (liver), kelainan jantung, varises (urat kaki keluar), mengidap tekanan darah tinggi, kanker payudara atau organ reproduksi, atau menderita kencing manis. Selain itu, ibu yang merupakan perokok berat, sedang dalam persiapan operasi, pengeluaran darah yang tidak jelas dari vagina, sakit kepala sebelah (migrain) merupakan kelainan-kelainan yang menjadi pantangan penggunaan KB suntik ini.

J. Cara Pemberian

a. Waktu Pemberian

  • Setelah melahirkan : hari ke 3 – 5 pasca salin dan setelah ASI berproduksi
  • Setelah keguguran : segera setelah dilakukan kuretase atau 30 hari setelah keguguran (asal ibu belum hamil lagi)
  • Dalam masa haid : Hari pertama sampai hari ke-5 masa haid

b. Lokasi Penyuntikan

  • Daerah bokong/pantat
  • Daerah otot lengan atas

K. Interaksi Obat

Aminoglutethimide (Cytadren) mungkin dapat meningkatkan eliminasi dari medroxyprogesterone lewat hati dengan menurunkan konsentrasi medroxyprogesterone dalam darah dan memungkinkan pengurangan efektivitas medroxyprogesterone.

L. Cara Penyimpanan

Disimpan dalam suhu 20-25°C

M. Pelayanan Kontrasepsi Suntik

Penelitian tentang suntikan KB adalah pada tahun 1963 yaitu uji coba pada depo provera suntik yang kemudian di lisensi di Inggris pada tahun 1984. Pada tahun 1990-an metode ini telah di lisensi sebagai pilihan metode kontrasepsi pilihan pertama. Sampai saat ini jenis metode suntik yang digunakan adalah suntikan kombinasi dan suntikan progestrin.

a)  Lokasi Penyuntikan

Lokasi penyuntikan KB baik kombinasi maupun suntikan progestrin secara consensusinternasional bahwa disuntikkan di bokong yaitu pada musculus ventro gluteal dalam. Musculus ini dapat di ukur dari spina iliaca anterior superior (SIAS) sampai dengan os coccygeus kemudian di ambil 1/3 bagian dari SIAS.

Atau jika dianalogikan dengan kotak, kemudian kita bagi ke dalam 4 bagian, maka yang akan kita suntikan adalah bagian kuadran luar.

b) Jenis Kontrasepsi Suntik

1. Suntikan kombinasi

Suntikan kombinasi yang saat ini berada di pasaran Indonesia adalah kombinasi antara 25 mg medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat. Cara kerja suntikan kombinasi ini pada prinsipnya sama dengan cara kerja pil kombinasi. Yang membedakan adalah lebih secara teknis karena isi dari kontrasepsi suntik ini tidak mengandung etinilestradiol maka risiko terhadap hipertensi dan vaskularisasi yang disebabkan oleh hormone ini praktis tidak terjadi. Maka kontrasepsi suntik ini lebih aman untuk perempuan dengan hipertensi. Demikian juga pada perempuan yang mempunyai migrain juga lebih aman menggunakan kontrasepsi ini.

Suntikan kombinasi ini efektif bekerja selam 30 hari atau dapat juga di hitung dalam 4 minggu. Hal yang membedakan dengan pil akan tergantung dengan bidan/provider KB yang lain ketika menghendaki ulangan suntik. Efektivitas suntik juga tinggi namun pengembalian kesuburan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pil. Perempuan yang sudah di suntik otomatis tidak bisa menolak dari semua efek yang terjadi sampai dengan efektivitasnya habis yaitu 30 hari untuk pil kombinasi hal ini berbeda dengan pil, yaitu klien dapat menghentikan pengunaannya sewaktu-waktu.

Waktu pemberian suntik untuk pertama kali hampir sama dengan pil. Adapun yang membedakan adalah untuk kunjungan ulang. Suntikan kombinasi diberikan diberikan setiap bulan dengan teknik intra muskular dalam (disesuaikan dengan kondisi klien, yaitu gemuk kurusnya klien). Mintalah klien untuk datang 4 minggu sekali. Suntikan ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal, dengan kemungkinan terjadi gangguan pendarahan. Dapat juga diberikan 7 hari setelah jadwal seharusnya agar diyakini perempuan tersebut tidak hamil. Anjurkan untuk menggunakan barier lain atau tidak melakukan hubungan seksual selama 7 hari. Namun lebih baik lagi akseptor datang tepat pada waktunya (4 minggu sekali).

Hal-hal yang perlu disampaikan kepada klien tentang hal-hal yang perlu diwaspadai pada jangka waktu penggunaan kontrasepsi suntik kombinasi adalah:

  • Nyeri dada hebat atau nafas pendek, hal ini mengindikasikan adanya bekuan darah atau adanya serangan jantung.
  • Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan, ini mengindikasikan terjadinya stroke, atau migrain.
  • Nyeri tungkai hebat, ini mengindikasikan kemungkinan penyumbatan pembuluh darah pada tungkai.
  • Tidak terjadinya perdarahan ataupun spotting selama 7 hari sebelum penyuntikan berikutnya, ini dimungkinkan terjadinya kehamilan.
  • Suntikan progestrin

Saat ini suntikan progestrin yang beredar di pasaran adalah yang mengandung Depo medroksiprogesteron asetat (DMPA) yang mengandung 150 mg DMPA dan diberikan 3 bulan sekali atau 12 minggu sekali pada bokong yaitu musculus gluteus maximus (dalam). Dahulu dikenal juga suntikan dengan jenis noristerat tetapi saat ini sudah jarang digunakan.

Kontrasepsi suntikan progestrin ini sangat efektif dibandingkan dengan mini pil, karena dengan dosis gestagen yang cukup tinggi dibandingkan dengan mini pil. Akan tetapi, kembali kesuburan cukup lambat, yaitu rata-rata 4 bulan setelah berhenti dari penyuntikan sehingga akan kurang tepat apabila digunakan para wanita yang menginginkan untuk segera hamil pada waktu yang cukup dekat. Kontrasepsi ini cocok bagi ibu yang sedang menyusui.

Secara umum keuntungannya hampir sama dengan mini pil, hanya saja kontrasepsi ini memang lebih efektif. Tetapi untuk keterbatasannya perlu dikaji kembali dan disampaikan dengan benar kepada klien agar tidak kaget dengan hal-hal yang berkaitan dengan efek samping/keterbatasan kontrasepsi. Hal-hal yang akan sering ditemukan adalah sebagai berikut:

2. Adanya gangguan haid yang berupa:

  • Siklus haid memanjang atau memendek
  • Perdarahan yang banyak ataupun sedikit
  • Perdarahan tidak teratur ataupun perdarahan bercak
  • Tidak haid sama sekali

3. Pada penggunaan jangka panjang akan terjadi defisiensi estrogen sehingga dapat menyebabkan kekeringan vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, jerawat, dan meningkatnya risiko osteoporosis.

Siapa saja yang boleh dan tidak menggunakan kontrasepsi ini pada prinsipnya hampir sama dengan metode kontrasepsi oral/pil. Penggunaan suntik ini pada beberapa penelitian terbukti pada pemakaian jangka panjang akan menyebabkan defisiensi estrogen, tetapi pada penelitian lanjutan kadar estrogen tersebut akan kembali setelah wanita tersebut berhenti menggunakan suntik ini, sehingga risiko osteoporosis berkurang. Namun hal ini sedang diteliti lebih lanjut, sehingga tetaplah perlu diberitahukan kepada akseptor bahwa penggunaan suntikn kombinasi jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Perokoko juga merupakan kontra indikasi pemakaian kontrasepsi hormonal dikarenakan rokok dapat menyebabkan spasme pembulih darah, sehingga menjadi penyebab penyakit jantung dan stroke. Hal ini dapat menggangu efektivitas dari hormon ini, dan juga akan memperparah organ tubuh dalam bekerja.

Waktu pemberian suntik pertama prinsipnya sama dengan kontrasepsi hormonal lain. Adapun untuk kunjungan ulangnya adalah 12 minggu setelah penyuntikan. Suntikan ulang dapat diberikan 2 minggu sebelum jadwal dan bisa diberikan setelah asalkan perempuan tersebut diyakini tidak hamil, akan tetapi perlu tambahan barier dalam waktu 7 hari setelah penyuntikan atau tidak melakukan hubungan seksual.

N. Persiapan dan Pelaksanaan Pelayanan

Pelaksanaan Pelayanan

Ruang untuk pasien rawat jalan maupun ruang perawatan dapat di gunakan untuk pemberian kontrasepsi suntik. Bila mungkin, ruangan tersebut harus berada jauh dari daerah ramai di lingkungan klinik taua rumah sakit. Ruangan tersebut harus:

  • Mendapat cahaya yang memadai,
  • Menggunakan lantai kramik atau semen agar mudah di bersihkan,
  • Bebas dari debu dan serangga, dan
  • Memiliki vebtilasi yang baik.

Fasilitas untuk mencuci tangan juga harus tersedia di dekat ruang tersebut, termasuk persediaan air bersih yang mengalir, serta tersedia wadah atau kantung plastik untuk pembuangan limbah terkontaminasi. Wadah tahan tusuk harus di letakkan di tempat yang aman untuk pembuangan jarum dan alat tulis.

Persiapan Klien

Karena kulit tidak mungkin disterilisasi, antiseptik di gunakan untuk meminimalkan jumlah mikroorganisme pada kulit tempat suntikan harus dilaksanakan. Hal ini mutlak harus di laksanakan untuk mengurangi kemungkinan risiko infeksi pada lokasi suntik.

  • Periksa daerah suntik apakah bersih atau kotor.
  • Bila lengan atas  atau pantat yang akan di suntik terlihat kotor, calon klien diterima membersihkannya dengan sabun dan air.
  • Biarkan daerah tersebut kering.

Persiapan Yang Dilakukan Petugas

Langkah 1: cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air mengalir. Keringkan dengan handuk atau dianginkan.

Langkah 2: buka dan buang tutup kaleng pada vial yang menutupi karet. Hapus karet yang ada diatas bagian vital dengan kapas yang telah di basahi dengan alkohol 60-90%. Biarkan kering (pada depo profera atau cyclofem).

Langlah 3: bila menggunakan jarum dan semprit sekali pakai, segera buka plastiknya. bila menggunakan jarum dan semprit suntik yang telah di sterilkan dengan DTT, pakai korentang atau forsep yang telah di DTT untuk mengambilnya.

Catatan: jangan pakai semprit suntik untuk lebih dari sekali suntik. Pada penelitian di dapatkan pemakain satu semprit dengan beberapa jarum dapat menularkan virus hepatitis B.

Langkah 4: pasang jarum pada semprit suntik dengan memasukkan jarum pada mulut semprit penghubung.

Langkah 5: balikkan vial dengan mulut vial di bawah. Masukkan cairan suntik dalam semprit. Gunakan jarum yang sama untuk menghisap kontrasepsi suntik dan menyuntikan pada klien.

Catatan: buang kebiasaan untuk tetap membiarkan satu jarum menancap pada vital suntikan, dengan tujuan pemakaian beberapa kali. Cara ini akan menyeababkan hubungan langsung dari udara ke dalam tabung sehingga kuman dapat masuk dan mencemari obat atau kontrasepsi suntik.

Persiapan daerah suntikan

Langkah 1: bersihkan kulit yang akan disuntik denga kapas alkohol yang di bashi oleh ethil/ isopropil alkohol 60-90%.

Langkah 2: biarkan kulit tersebut karing sebelum dapat did suntik.

Peralatan

  1. Obat yang akan di suntik (depo profera, cyclofem).
  2. Semprit suntik dan jarumnya (sekali pakai).
  3. Alkohol 60-90% dan kapas.

Teknik suntikan

  • Kocok botol dengan baik, hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara (depo profera/ cyclofem). Keluarkan isinya.
  • Suntikkan secara intramuskular dalam di daerah pantat (daerah glutea). Apabila suntukan di berikan terlalu dangkal penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja segara dan efektif.
  • Depo profera (3ml/150mg atau 1ml/150mg) di berikan setiap 3 bulan (12 minggu)
  • Noristerat (200mg) di berikan setiap 2 bulan (8 minggu)
  • Cyclofem (25 mg medroksi progesteron asetat dan 5 mg estrogen sipionate) doberikan setuap bulan. Di indonesia di dapatkan haid teratur pada 85 % peserta suntikan cyclofum.

Setelah tindakan suntik

Untuk jarum dan semprit sekali pakai:

  • Jangan memijat daerah suntik. Jelaskan pada klien bahwa obat akan terlalu cepat di serap.
  • Jangan masukkan kembali, dan jangan membengkokkan atau mematahkannya. Buang jarum dan semplit dalam kotak/tempat tahan robekan/ tusukan/tembus, misalnya kotak kayu, botol plastik atau kaleng yang mempunyai tutup. Botol bekas infus dapat di pakai, tetapi ada keungkinan tertembus/robek.
Hindari kemungkinan tersusuk jarum secara sengaja. Jangan pisahkan jarum dengan semprit setelah pemkaian. Jangan di srungkan kembali, di bengkokkan atau di patahkan sebelum di buang.

Bila perlu menyarunghkan kembali, gunakan teknik “satu tangan”.

  • Letakkan kotak tersebut pada tempat ayng mudah di jangkau dan mudah di buka tanpa menggunakan benda tajam.
  • Kubur/bakar bila kotak tersebut telah 2/3 penuh.

Jarum dan tabung yang di pakai lebih dari sekali.

Lakukan dekontaminasi dengan merendamnya dalam cairan klorin 0,5% sehingga jarum dan tabung aman di pakai (cairan kloron mematikan kuman hepatitis dan HIV). Setelah dekontaminasi, pisahkan jarum dan tabung. Bersihkan, cuci, dan sterilisasi dengan cara penguapan atau pemanasan kering atau disinfeksi tingkat tinggi sesuai proses yang telah di jelaskan. Otoklaf atau DTT dengan cara rebus. Bila menggunakan tabung kaca, pemanasan kering dapat di lakukan.

Petunjuk Penggunaan Alat Suntik “ Autodisable”

  1. Periksa apakah kemasan alat suntik tidak rusak dan belum dibuka. Buang bila telah terbuka atau rusak.
  2. Buka bagian bawah kemasan dan keluarkan alat suntik tersebut.
  3. Tanpa menyentuh hub jarum, pasang alat suntik ke jarum dengan kencang dan putar.
  4. Usapkan/bersihkan bagian tas vial dengan alkohol dan biarkan hingga kering.
  5. Buka tutup pelindung jarum. Jangan menggerakkan pendorong dan jangan menyuntikka udara ke dalam vial, karena akan membuat alat suntik tidak berfungsi (disable).
  6. Ambil dan balikkan vial. Masukkan jarum kedalam vial.
  7. Jaga agar ujung jarum tetap dalam cairan. Jangn memasukkan udara ke dalam alat suntik. Hal tersebut dapat mengakibatkan dosis yang tidak tepat. Tarik pendorong secara perlahan untuk mengisi alat suntik. Pendorong akan berhenti secara otomatis bila telah menvcapai tanda batas 0,5 ml atau 1 ml, dan akan terdengar suara “klik”.

Untuk mengeluarkan gelembung udara, biarkan jarum dalam vial dan pegang alat suntik dengan posisi tegak, dan ketuk tabung alat suntik. Kemudian secara perlahan tekan pendorong ke tanda batas dosis (0,5 ml atau 1 ml)

 

O. Farmakologi dari Kontrasepsi Suntikan

DMPA : 

1.  Tersedia dalam larutan mikrokristaline
2.  Setelah satu minggu penyuntikkan 150mg, tercapai kadar puncak, lalu kadarnya tetap tinggi untuk 2-3 bulan, selanjutnya menurun kembali.
3. Ovulasi mungkin sudah dapat timbul setela 73 hari penyuntikan, tetapi umumnya ovulasi baru timbul kembali setelah 4 bulan atau lebih.

NET EN :

1. Merupakan suatu progestin yang berasal dari testoteron, dibuat dalam larutan minyak. Larutan minyak tidak mempunyai ukuran partikel yang tetap dengan akibat pelepasan obat dari tempat suntikan kedalam sirkuladi darah dapat sangat bervariasi.
2. Lebih cepat dimetabolisir dan kembalinya kesuburan lebih cepat dibandingkan DMPA.
3. Setelah disuntikan, NET EN harus di ubah menjadi nerothindrone (NET) sebelum ias menjadi aktif secara biologis.
4.  Kadar puncak dalam serum tercapai dalam7 hari setelah penyuntikan, kemudian menurun secara tetap dan tidak ditemukan lagi dalam waktu 2,5-4 bulan setelah disuntikan.

P. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntikan

  • Primer (Mencegah Ovulasi)

Kadar FSH dan LH menurun dan tidak terjadi sentakan LH. Respon kelenjar hypophyse terhadap gonadoprotein releasing hormon eksogenous tidak berubah, sehingga memberi kesan proses terjadi di hipotalamus dari pada di kelenjar hypophyse. Ini berbeda dengan POK, yang tampaknya menghambat ovulasi melalui efek langsung pada kelenjar hypophyse. Penggunaan kontrasepsi suntikan tidak menyebabkan keadaan hipo-estrogenik.

Pada pemakaian DMPA, endometrium menjadi dangkal dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau hanya didapatkan sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi, perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam waktu 90 hari setelah suntikan DMPA yang terakhir.

  • Sekunder :

a. Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa.
b. Membuat endometrium menjadi kurang baik/layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi
c. Mungkin mempengaruhi kecepatan transpor ovum dalam tuba fallopi.

 

Sumber:
Rahardja, Kirana. 2007. Obat-obat Penting ed.6, 717.  Jakarta: PT. Elex Media Computa.
Saifuddin, A.B. 2006. Buku Panduan Praktis pelayanan Kontrasepsi, Pk-54-PK58. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo.
Hartono,dr.Hanafi. 2004. Keluarga dan Kontrasepsi. Jakarta: Cv muliasari.
Everett, Suzanne. 2007. Buku Saku Kontrasepi dan Kesehatan Seksual Reproduksi. Jakarta: EGC.
Meilani, Niken. 2010. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Fitramaya.
Website :
PROHEALTH, http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/11/19/kontrasepsi-suntik/
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/16/kb-suntik/
http://yosefw.wordpress.com/2009/03/20/kontrasepsi-suntikan-injeksi-depo-provera/
http://dc206.4shared.com/doc/jtp5pDki/preview.html
http://www.tundakehamilan.com/artikel_Kontrasepsi_metodesuntikan.html

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2012 in Kespro dan KB

 

Tag: ,

One response to “KONTRASEPSI SUNTIKAN

  1. N Wisnu Sutarja

    Agustus 18, 2014 at 20:05

    Artikel Yang Bagus, jempol utk yg nulis

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: