RSS

BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN ETIKA PROFESI KEBIDANAN

23 Sep

Membicarakan kehamilan dan seluk beluknya selalu membuat  penasaran. Selalu saja ada yang menarik, unik  dan indah didalamnya. Apalagi bila berkaitan dengan kearifan tradisi budaya Nusantara. Dimana didalamnya terkandung nilai-nilai adat istiadat lokal yang mempunyai kekayaan tradisional yang merupakan warisan leluhur turun-temurun. Banyak nilai positif  tertuang didalamnya. Dari sana pula kemajuan ilmu pengetahuan digali pada mulanya. Dikembangkan dalam cara cara yang lebih modern, terkontrol dan berdasar penelitian yang berbasis ilmu pengetahuan terkini. Contohnya, misalnya pijat  bayi dan ibu, perawatan spa ibu pasca bersalin, dan metode-metode relaksasi berupa gending maupun lagu-lagu dari musik tradisional bagi ibu yang akan bersalin. Bahkan di antara ilmu itu malah sempat diusung ke luar negeri dan dipelajari disana, sebagai contoh tradisi lulur dari Bali dan  Lulur atau ratus dari keraton Jogjakarta maupun Solo.

  •  Budaya dan Pandangan dari Segi Kebidanan

a.      Upacara Satu Bulanan

Upacara ini sudah semakin jarang ditemukan, apalagi bagi yang tinggal di kota besar. Dalam upacara satu bulanan ini diperingati dengan membuat semacam bubur sum-sum. Bubur ini terbuat dari bahan beras dan di tepung. Selanjutnya dimasak dengan air . Sebagai pelengkap diberi kuah dua warna, yakni dari santan kelapa yang diberi sedikit garam dan satu lagi kuah warna merah yang terbuat dari  gula jawa atau gula aren. Hidangan ini sebagai pertanda awal kehamilan. Biasanya dibagikan kepada tetangga kiri kanan dengan permohonan doa agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam memulai kehamilan.

Dari pandangan kebidanan: Bubur ini sangat baik untuk ibu hamil awal, terlebih bila ada keluhan mual muntah, makanan lunak dengan kandungan manis dari gula asli akan memberi asupan kalori dan mempermudah pencernaan terutama saat ibu hamil enggan menikmati berbagai macam jenis makanan beraroma tajam. Bubur dari bahan katul yang diproses secara tradisional sangat kaya akan vitamin B1 yang dibutuhkan ibu hamil. Makan bubur ini bersama dengan para tetangga juga memberi dukungan psikologis bahwa semua orang terlibat memperhatikan dan terlebih dukungan spiritual.

 b.      Upacara Dua Bulanan

Pada saat peringatan usia hamil dua bulan, ibu hamil akan dibuatkan beberapa jenis sajian yang lebih komplit. Yakni nasi tumpeng, urap – urap lengkap dari sayur mayur segar. Ada beberapa aturan mengenai jenis sayuran yang dipilih dan jumlah macamnya setiap daerah mempunyai ketentuan yang beda , yang pasti jumlahnya ganjil. Untuk pelengkap sajian juga disediakan semacam jenang katul atau bubur dari  katul beras, diatas jenang katul ini ditaburi dengan parutan kelapa dan parutan gula aren. Kemudian dibuatkan juga campuran dari bahan beras, santan dan gula merah yang dibungkus daun lalu dikukus. Lalu bubur  berikutnya adalah bubur merah putih yang terbuat dari bahan beras. Bubur warna merah terbuat dari beras yang ditanak dengan gula merah, sedangkan bubur warna putih terbuat dari beras yang ditanak dengan santan. Cara menghidangkan adalah bubur merah lebih dulu dituang di pring lalu diatasnya dituang sedikit bubur putih.

Dalam pandangan kebidanan: Tumpeng ini merupakan salah satu cara penyajian makan bersama yang menggugah selera dan sangat baik untuk membantu meningkatkan selera makan ibu hamil, tumpeng juga memberi sebuah perlambang adanya dukungan para sanak keluarga dan tetangga untuk bersama sama mengadakan doa syukuran bagi ibu hamil. Sedangkan sayur mayur segar terutama berwarna hijau sangat baik bagi ibu hamil trimester pertama karena dalam sayur mayur hijau terkandung asam folat alami yang berguna mencegah kecacatan pada janin. Keberadaan bubur beras yang manis sangat baik pula bagi ibu hamil yang menginginkan kudapan atau makanan selingan sebagai pembuka sebelum menyantap menu lain. Biasanya pada kehamilan awal asam lambung meningkat dan bubur tersebut menjadi hidangan pembuka yang baik.

 c.       Upacara Tiga Bulanan atau Madeking

Sudah agak sulit bisa menemukan upacara ini di kota besar, saya beruntung ada sepupu teman perawat yang melakukannya. Rupanya upacara Madeking yang beberapa kali saya hadiri adalah pada kehamilan ke tiga kalinya. Dalam upacara Madeking ini dihidangkan  aneka jenis makanan yang berupa ketupat lalu nasi gurih, kali ini nasi berwarna kuning dengan mencampur air kunyit saat menanak nasi dan di beri garam sedikit dan santan sebelum dikukus. Untuk lauk pauk sudah lebih lengkap dan bervariasi, ada sambal goreng ati rempela, daging sapi dan sebagai kudapan dibuatkan  kue apem.

Dalam pandangan Kebidanan: Nasi gurih  dan ketupat sebagai hidangan ibu hamil adalah salah satu cara kreatif untuk membangkitkan selera makan ibu hamil agar terpenuhi kebutuhan kalori. Kebutuhan protein sudah mulai  diberikan seiring  adanya peningkatan selera makan menjelang kehamilan  empat bulan. Dengan menghidangkan aneka macam daging dan cara pengolahannya. Protein sangat  dibutuhkan ibu hamil untuk pembentukan organ  tubuh bayi . Upacara Madeking ini juga diadakan sebagai wujud permohonan keselamatan bagi janin dalam Kandungan. Selamatan berupa  doa – doa sesuai agama masing – masing.

 d.      Kehamilan Lima Bulanan

Pada masa kehamilan ini dilakukan upacara selamatan dengan kudapan khasnya yakni ketan aneka warna dengan ditaburi enten-enten yang terbuat dari bahan kelapa parut di beri gula. Sebagai hidangan yang dibagikan untuk tetangga adalah urap – urap terbuat dari sayur mayur hijau. Hidangan urap urap ini lengkap dengan nasi dan diletakkan dalam takir atau daun pisang yang dibentuk seperti mangkuk dengan jepit lidi. Hantaran hidangan ada yang  diberikan dengan alas tampah/ tambir kecil dari anyaman bambu atau bisa pula dengan cobek tanah liat. Pelengkapnya adalah rujak tujuh jenis buah.Upacara lima bulanan sulit ditemukan saat ini.  Saya juga belum pernah menghadiri.

Dalam Pandangan kebidanan : Upacara untuk kehamilan lima bulanan ini merupakan dukungan psikologis dan spiritual yang baik bagi ibu  hamil. Dimana pada usia kehamilan 20 minggu janin sudah makin lincah bergerak, Jantung berdetak dengan baik, dan organ tubuh bayi terbentuk. Kebutuhan akan zat makanan bergisi dan kalori juga tetap mendapat perhatian istimewa. Kehadiran sanak keluarga yang mengunjungi ibu hamil saat upacara ini  membantu mengurangi kecemasan, kesempatan saling berbagi pengalaman melewati masa masa kehamilan tiga bulan pertama yang sangat rawan. Upacara ini merupakan ungkapan syukur atas terlaluinya trimester pertama kehamilan dan mohon keselamatan untuk proses kehamilan berikutnya.

 e.       Upacara Enam Bulanan

Dalam upacara ini dibuatkan kudapan khas yakni apem kocor terbuat dari tepung beras dan diberu kuah air gula aren. Untuk tradisi enam bulan ini juga jarang dilakukan. Namun demikian perlu kita tetap tahu.

 f.       Upacara Tujuh Bulanan, atau Biasa Dikenal dengan Tingkeban dan Mitoni

Berikutnya adalah upacara tujuh bulanan, upacara inilah yang masih sering kita jumpai di masyarakat kita. Hidangan khas yang paling dinantikan para tamu adalah rujak dan dawet atau cendol beras. Menurut tradisi bila rasa dawet dan rujaknya sedap berarti anaknya perempuan dan bila saat upacara membelah kelapa muda air kelapa muncrat tinggi berarti anak dalam kandungan perempuan. Menarik sekali bukan. Hidangan pelengkap lain adalah polo pendem yakni umbi umbian dan bisa juga kacang tanah yang direbus, urap urap , nasi megono dan tumpeng tujuh buah kecil kecil, bubur beras merah putih, yang putih di makan suami, yang merah dimakan istri, urap – urap sayuran hijau tujuh jenis, pisang raja, ampyang dan bola ketan kukus diwarna merah,kuning,hijau ,putih dan coklat. Telur tujuh butir. Kudapan berupa jajan pasar melengkapi hidangan.

Pandangan Kebidanan : Upacara tujuh bulanan ini hanya dilakukan pada kehamilan pertama kali dan merupakan dukungan bagi ibu hamil dimana dalam masa kehamilan trimester tiga, ibu hamil mengalami perubahan bentuk tubuh, biasanya bertambah gemuk dan merasa tidak cantik. Namun tradisi masyarakat justru mengangkat rasa percaya diri dan memperbaiki body image seorang ibu hamil agar tampak begitu mempesona dalam upacara siraman dan mandi bunga. Ibu hamil didandani dengan roncean bunga melati dan ganti jarik tujuh kali.di Jogjakarta, kebetulan tetangga sebelah rumah mengadakan upacara tersebut. Sedangkan untuk hidangan makanan yang diadakan merupakan suatu sajian yang semakin komplit berbagai protein nabati dan hewani, berbagai sumber jenis zat kalori disertakan. Dengan harapan bahwa ibu hamil senantiasa selamat dan terjaga baik kondisi kesehatannya diiringi doa-doa para sanak keluaraga dan tetangga.

 g.      Upacara Delapan Bulanan

Pada upacara ini, dihidangkan simbol bulus angrem (kura kura sedang mengerami telur). Uniknya hidangan terbuat dari klepon yakni adonan tepung ketan diwarnai pandan hijau dan diberi gula parut didalamnya. Setelah matang klepon disusun dalam piring lalu diatasnya di telungkupkan kue serabi.

Pandangan Kebidanan : Dalam penyajian kudapan ini memberi makna simbolik dan dukungan mental bagi ibu hamil dimana ia harus hati-hati menjaga kehamilan yang memasuki trimester ke tiga. Seperti perilaku positif seekor kura-kura yang setia mengerami telur-telur bakal anak anaknya. Kehamilan merupakan anugerah sekaligus menuntut tanggung jawab seorang calon ibu agar menjaga janin dalam kandungannya.

 h.      Upacara Sembilan Bulanan

Dalam upacara ini diadakan doa untuk mohon keselamatan dan kelancaran persalinan, dimana hidangan yang dibuat dinamakan bubur procot. Bahan terbuat dari tepung beras, gula merah dan sanatan, ditanak, Setelah matang dituang dalam takir daun pisang lalu diberi pisang kupas yang utuh ditengahnya.

Dalam Pandangan kebidanan: Semua yang dilakukan dalam simbolik sajian ini ini erat kaitannya dengan dukungan mental bagi ibu yang akan bersalin. Menanamkan sugesti diri yang positif. Tak lupa disertai doa dari sanak keluarga dan para tetangga. Harapan bahwa menjelang proses persalinan tak kurang suatu apapun, ibu hamil melaluinya dengan tenang dan bahagia. Melahirkan dengan lancar tanpa penyulit.

Sebenarnya masih banyak beberapa upacara yang berkaitan dengan penyulit menjelang persalinan , namun demikian pada intinya sama adalah memberi dukungan positif bagi seorang ibu yang sedang hamil. Dalam praktek tradisional, memang ada banyak hal yang tak jarang dikaitkan dengan mitos-mitos dan sedikit berbau tahayul. Namun demikian kita tidak perlu menyikapinya dengan antipati. Petiklah hal-hal positif yang tentu saja tidak merugikan bagi ibu hamil. Hal penting adalah jangan sampai kita lambat laun melupakan warisan kekayaan tradisi asli nusantara kita terutama di Indonesia ini kesehatan agar mendapat bimbingan. Kekayaan tradisi dari Sabang hingga Merauke juga banyak yang menarik untuk dibagikan dan kita pelajari.

  • Kebudayaan dan Sistem Pelayanan Kesehatan

Bila suatu bentuk pelayanan kesehatan baru di perkenalkan kedalam suatu masyarakat dimana faktor-faktor budaya masih kuat, biasanya dengan segera mereka akan menolak dan memilih cara pengobatan tradisional sendiri. Apakah mereka akan memilih cara baru atau lama, akan memberi petunjuk kepada kita akan kepercayaan dan harapan pokokmereka lambat laun akan sadar apakah pengobatan baru tersebut berfaedah , sama sekali tidak berguna, atau lambat memberi pegaruh. Namun, mereka lebih menyukai pengobatan tradisional karena berhubungan erat dengan dasar hidup mereka. Dengan demikian, cara baru itu akan dipergunakan secara sangat terbatas atau untuk kasus-kasus tertentu saja.

Oleh sebab itu, pelayanan kesehatan yang modern harus disesuaikan dengan kebudayaan setempat, akan sia-sia jika ingin memaksakan sekaligus cara-cara modern dan menyapu semua cara-cara tradisional. Bila tenaga kesehatan berasal dari lain suku atau bangsa, sering mereka merasa asing dengan penduduk setempat . Ini tidak akan terjadi jika tenaga kesehatan tersebut berusaha mempelajari kebudayaan mereka dan menjembatani jarak yang ada diantara mereka. Dengan sikap yang tidak simpatik serta tangan besi, maka jarak tersebut akan semakin lebar. Setiap masyarakat mempunyai cara pengobatan dan kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan masing-masing. Sedikit usaha untuk mempelajari kebudayaan mereka, akan mempermudah memberikan gagasan yang baru yang sebelumnya tidak mereka terima.

Pemuka-pemuka di dalam masyarakat itu harus di yakinkan sehingga mereka dapat memberikan dukungan dan yakin bahwa cara-cara baru tersebut bukan untuk melunturkan kekuasaan mereka  tetapi sebaliknya akan memberika manfaat yang lebih besar. Pilihan pengobatan dapat menimbulkan kesulitan. Misalnya, bila pengobatan tradisional biasanya mengunakan cara-cara menyakitkan seperti mengiris-iris bagian tubuh atau dengan memanasi penderita,akan tidak puas hanya dengan memberikan pil untuk diminum. Hal tersebut di atas bisa menjadi suatu penghalang dalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan berjalannya waktu mereka akan berfikir dan menerima.

  • Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pelayanan Kesehatan

Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi penyakit-penyakit yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti bagaimana penyakit itu dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari sikap merka terhadap penyakit tersebut. Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit diisolasi dan dibiarkan saja. Kebiasaan ini  mungkin dapat mencegah penularan dari penyakit-penyakit infeksi seperti cacar dan TBC.

Bentuk pengobatan yang diberikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap penyakit itu disebabkan oleh hal-hal yang supernatural atau magis, maka digunakan pengobatan secara tradisional. Pengobatan modern dipilih bila mereka menduga penyebabnya adalah fator ilmiah. Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata pengobatan yang mereka pilih berlawana denganpemikiran secara medis.

Di dalam masyarakat industri modern iatrogenic disease merupakan problema. Budaya menuntut merawat penderita di rumah sakit, pada hal rumah sakit itulah tempat ideal bagi penyebaran kuman-kuman yang telah resisten terhadp anti biotika.

 

Sumber:
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/10/02/mengenal-tradisi-budaya-nusantara-seputar-kehamilan/
 
http://pkmsobo.banyuwangikab.go.id/index.php?option=com_rokdownloads&view=file&task=download&id=29%3Akesehatan-ibu-dan-anak-dlm-persepsi-budaya-dan-dampak-kesehatannya&Itemid=16
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2012 in Etikolegal dalam Praktik Kebidanan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: