RSS

TANDA BAYI CUKUP ASI

TANDA BAYI CUKUP ASI

PENDAHULUAN 

Dalam mempersiapkan generasi yang tangguh dan cerdas di masa depan adalah tanggungjawab semua pihak. Baik tidaknya proses tumbuh kembang fisik, mental atau social anak dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu gizi, sosial, budaya, pelayan kesehatan dll. Impian setiap orang tua adalah memilki anak yang sehat, ecrdas, dan berkepribadain baik. Langkah awal untk mewujudkan impian tersebut adalah melalui pemberian makanan pertama aatu makanan awal yang benar, yang berkualitas dan kuantitas yang optimal. Setelah itu dilanjutkan dengan memberiakn makan makanan anak yang bergizi yang seimbang serta imunisasi yang yang dilakukan secra teratur. Gangguan gizi pada masa bayi dan anak dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut di kemudian hari. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa bayi akan tumbuh lebih sehat dan lebuh cerdas dengan diberi air susu ibu (ASI) eksklusif selam empat-enam bulan pertama kehidupannya (Roesli 2000).

ASI merupakan makanan yang mudah dicerna dan yang terbaik bagi bayi karena dapat memenuhi semua kebutuhan zat gizi untuk tumbuhn dan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas (Depkes RI 1996). Tanda bayi cukup ASI adalah tanda-tanda yang dapat dilihat pada bayi jika ia merasa cukup atau puas dengan ASI yang ia dapatkan.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 29, 2015 in Asuhan Neonatus

 

Tag: , ,

KONSEP PENYAKIT

KONSEP PENYAKIT

PENDAHULUAN

Penyakit adalah suatu keadaan dimana terdapat gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh, sehingga berada dalam keadaan yang tidak normal. Penyakit merupakan suatu keadaan yang bersifat objektif sedangkan rasa sakit adalah suatu keadaan yang bersifat subjektif. Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit, sebaliknya meskipun seseorang yang selalu mengeluh sakit belum tentu ditubuhnya ditemukan suatu penyakit.

Tanpa pemahaman tentang berbagai konsep penyakit, kita tidak mampu mempunyai dasar pemikiran yang kuat untuk mendeteksi serta mengenal setiap perbedaan yang ditemukan pada pelayanan kesehatan pada masa kini. Kesenjangan antara konsep penyakit yang dianut oleh petugas kesehatan dan yang dianut oleh masyarakat sering menyebabkan gagalnya upaya meningkatkan kesehatan di masyarakat.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 29, 2015 in Ilmu Penyakit

 

Tag:

LTA

INTISARI

 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN CIREBON

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2014

SR

Hubungan Antara Usia Ibu, Paritas dan Umur Kehamilan dengan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon Tahun 2013

VII BAB+ix Romawi+54 Halaman+7 Tabel+3 Gambar+7 Lampiran

Asfiksia didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Sudarti, 2013).Berdasarkan teori, faktor risiko terjadinya asfiksia adalah umur, paritas dan umur kehamilan. Terdapat 585 kasus asfiksia dari 3625 persalinan di RSUD Arjawinangun Tahun 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia ibu, paritas dan umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon Tahun 2013.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik dengan desain case control, pengambilan sampel kasus dilaksukan secara total sampling, sedangkan sampel kontrol dengan menggunakan teknik systematic random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Chi-Square.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara usia dan paritas ibu dengan kejadian asfiksia, namun ada hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dengan kejadian asfiksia dimana diperoleh hasil nilai p value sebesar 0,019 yang berarti p value < 0,05 dengan nilai OR 0,64 dalam Confidence Interval (CI) 95% (0,44-0,93).

Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara umur kehamilan dengan kejadian asfiksia. Akan tetapi, tidak ada hubungan antara usia dan paritas ibu dengan kejadian asfiksia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Harapan peneliti bagi tenaga kesehatan khususnya bidan dapat mendeteksi secara dini kejadian asfiksia, merujuk ketempat pelayanan yang lebih memadai sehingga klien mendapatkan penanganan yang lebih cepat, tepat.

Kata Kunci        :(Paritas dan Umur Ibu Bersalin, Umur Kehamilan, Asfiksia)

Daftar Bacaan  : 28 (2008-2013)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2014 in Uncategorized

 

IMUNISASI DASAR

PENDAHULUAN

Si kecil sering sakit-sakitan dan terhambat pertumbuhannya? Mungkin karena daya tahan tubuhnya sedang menurun akibat pengaruh lingkungan, atau bahkan karena imunitasnya termasuk rendah. Sebelum memberikan obat-obatan kepada si kecil, ada baiknya Bunda mengingat-ingat lagi, kapan terakhir kali si kecil mendapat imunisasi. Sudah lengkapkah imunisasinya? Atau mungkin ada yang terlewat?

Imunisasi bisa meningkatkan imunitas tubuh dan menciptakan kekebalan terhadap penyakit tertentu dengan menggunakan sejumlah kecil mikroorganisme yang dimatikan atau dilemahkan.

Imunisasi bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan di Indonesia, namun tetap saja sampai kini banyak orangtua yang masih ragu-ragu dalam memutuskan apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak.

Kebingungan tersebut sebenarnya cukup beralasan, banyak selentingan dan mitos yang kontroversial beredar, mulai dari alergi, autis, hingga kejang-kejang akibat diimunisasi. Namun, jika para orangtua mengetahui informasi penting sebelum imunisasi, sebenarnya risiko-risiko tersebut bisa dihindari.

  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2014 in Asuhan Neonatus

 

POST MATURE

A. Pengertian

Kehamilan postterm adalah kehamilan dengan usia lebih dari 42 minggu atau lebih berdasarkan perhitungan usia kehamilan dengan menggunakan HPHT. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa, kehamilan postmatur adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan seperti rumus neagle atau dengan tinggi fundus uteri serial (Mansjoer, 2011).

Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34 – 36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan posterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sedemikian hebat sehingga terjadi gawat janin.

Bila keadaan di atas tidak terjadi atau dengan kata lain tidak terjadi peristiwa insufisiensi plasenta maka janin posterm dapat tumbuh terus dengan akibat tubuh anak menjadi besar (makrosomia) dan dapat selanjutnya dapat menyebabkan distosia bahu.

Resiko pada janin posterm adalah gangguan yang terjadi selama periode antepartum dan gawat janin pada saat intrapartum karena adanya kompresi tali pusat akibat oligohidramnion yang terjadi. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2014 in Askeb 4 (Kegawatdaruratan)

 

Tag:

INFEKSI NEONATUS

A.    Infeksi Neonatus

Infeksi pada bayi baru lahir lebih sering ditemukan pada BBLR. Infeksi lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Bayi baru lahir mendapat kekebalan tubuh transplasenta terhadap kuman yang berasal dari ibunya. Sesudah lahir, bayi terpapar dengan kuman yang juga berasal dari orang lain dan terhadap kuman dari orang lain, dalam hal ini bayi tidak mempunyai imunitas.

Bayi baru lahir beresiko tinggi terinfeksi apabila ditemukan:

Riwayat kehamilan

  1. Infeksi pada ibu selama hamil antara lain TORCH
  2. Ibu menderita eklamsia
  3. Ibu dengan diabetes mellitus
  4. Ibu mempunyai penyakit bawaan
  5. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 6, 2013 in Askeb 4 (Kegawatdaruratan)

 

Tag:

Thalasemia, Transfusi Darah Seumur Hidup?

Pernah mendengar istilah Thalasemia?

Yap, sejenis penyakit yang mungkin masih asing terdengar di telinga kita. Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah yang mudah rusak, yaitu 3-4 kali lebih cepat dibanding sel darah normal. Oleh karena itu, umurnya pun relatif lebih pendek dibanding sel darah normal. Jika sel darah normal memiliki umur 120 hari, maka sel darah merah penderita thalasemia hanya bertahan selama 23 hari. Hampir 1/6 kalinya. Sel darah merah yang rusak ini diuraikan menjadi zat besi di dalam limpa. Akibatnya, kandungan zat besi dalam tubuh menumpuk dan bisa mengganggu fungsi organ lain sehingga berujung pada kematian terkait dengan kerusakan eritrosit yang lebih cepat. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 2, 2012 in Uncategorized